Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Uncategorized

Pengertian Maslāhah Mursālah

Pengertian Maslāhah Mursālah

Maslahah mursalah menurut bahasa terdiri dari dua kata, yaitu maslahah dan mursalah.[3] Kata maslahah berasal dari kata kerja bahasa Arab () menjadi () atau () yang berarti sesuatu yang mendatangkan kebaikan.[4] Kata maslāhah kadang-kadang disebut juga dengan () yang artinya mencari yang baik ().[5] Sedangkan kata mursālah adalah isim maf’ul dari fi’il madhi dalam bentuk tsulasi, yaitu (), dengan penambahan huruf “alif” dipangkalnya, sehingga menjadi (). Secara etimologis artinya terlepas, atau dalam arti () (bebas). Kata “terlepas” dan “bebas” disini bila dihubungkan dengan kata maslāhah maksudnya adalah “terlepas atau bebas dari keterangan yang menunjukkan boleh atau tidak boloehnya dilakukan”.[6]

Perpaduan dua kata menjadi “maslāhah mursālah ” yang berarti prinsip kemaslahatan (kebaikan) yang dipergunakan untuk menetapkan suatu hukum Islam. Juga dapat berarti, suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat.

Ada beberapa rumusan definisi yang berbeda tentang maslāhah mursālah ini, namun masing-masing memiliki kesamaan dan berdekatan pengertiannya. Di antara definisi tersebut:

  1. Al- Ghazali dalam kitabal-Mustasyfā merumuskan maslāhah mursālah sebagai berikut:

Apa-apa (maslāhah) yang tidak ada bukti baginya dari syara’ dalam bentuk nash tertentu yang membatalkannya dan tidak ada yang memperhatikannya.[7]

  1. Asy-Syaukani dalam kitabIrsyād al-Fuhūl yang memberikan defenisi:[8]

Maslāhah yang tidak diketahui apakah syari’ menolaknya atau memperhitungkannya.

  1. Ibnu Qudaima dari ulama Hambali memberi rumusan:[9]

Maslahat yang tidak ada bukti petunjuk tertentu yang membatalkannya dan tidak pula yang memperhatikannya.

  1. Yusuf Hamid al-alim memberikan rumusan:

sesuatu yang tidak ada petunjuk syara’ tidak untuk membatalkannya, juga tidak untuk memperhatikannya.

  1. Jalal al-Din Abd al-Rahman memberi rumusan yang lebih luas:[10]

Maslahat yang selaras dengan tujuan syari’ (pembuat hukum) dan tidak ada petunjuk tertentu yang membuktikan tentang pengakuannya atau penolakannya.

Categories:
Uncategorized
You Might Also Like