Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Pendidikan

Perwujudan tentang luas wilayah

Perwujudan tentang luas wilayah

Salah satu manfaat paling nyata dari penerapan wawasan nusantara. Khususnya di bidang wilayah. Adalah diterimanya konsepsi nusantara diforum internasional. Sehingga terjaminlah integritas wilayah territorial Indonesia. Laut nusantara yang semula dianggap “laut bebas” menjadi bagian integral dari wilayah Indonesia. Pertambahan luas wilayah sebagai ruang lingkup tersebut menghasilkan sumber daya alam yang mencakup besar untuk kesejahteraan bangsa Indonesia. Pertambahan luas wilayah tersebut dapat diterima oleh dunia internasional terutama negara tetangga yang dinyatakan dengan persetujuan yang dicapai.

BAB IV KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan:

  1. Wawasan nusantara secara garis besar merupakan cara pandang dan sikap untuk menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pada ideologi bangsa itu.
  2. Wawasan nusantara di indonesia berdasarkan pada filsafat pancasila, pembangunan nasional, kesatuan politik, ekonomi, sosial dan budaya, pertahanan keamanan, serta kesatuan luas wilayah.

DAFTAR PUSTAKA

  • Copyright Lembaga Pertahanan Nasional.(1975). Wawasan Nusantara. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
  • Direktorat Pengkajian Bidang Pertahanan dan Keamanan. (2012). Meningkatkan Bela Negara Masyarakat Perbatasan guna MendukungPembangunan Nasional dalam rangka Menjaga Keutuhan NKRI. Jurnal Kajian Lemhannas RI (Edisi 15, Mei 2013). Hlm. 88-104.
  • St. Munadjat Danusaputro. (1981). Wawasan Nusantara (dalam Pendidikan dan Kebudayaan) Buku III. Bandung: Alumni.
  • Sunarso, dkk.(2008). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: UNY Press.

baca jgua :

 

Pendidikan

Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial dan Budaya

Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial dan Budaya

(a) Bahwa masyarakat Indonesia adalah satu, perikehidupan bangsa harus merupakan kehidupan bangsa yang serasi dengan terdapatnya tingkat kemajuan masyarakat yang sama, merata dan seimbang, serta adanya keselarasan kehidupan yang sesuai dengan tingkat kemajuan bangsa.

(b) Bahwa budaya Indonesia pada hakikatnya adalah satu, sedangkan corak ragam budaya yang ada menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang menjadi modal dan landasan pengembangan budaya bangsa seluruhnya, dengan tidak menolak nilai – nilai budaya lain yang tidak bertentangan dengan nilai budaya bangsa, yang hasil-hasilnya dapat dinikmati oleh bangsa.

8) Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Pertahanan Keamanan

Penerapan wawasan nusantara di bidang pertahanan keamanan terlihat pada kesiapsiagaan dan kewaspadaan seluruh rakyat melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta untuk menghadapi berbagai ancaman bangsa dan Negara.

9) Dalam artian bahwa :

a) Bahwa ancaman terhadap satu pulau atau satu daerah pada hakekatnya merupakan ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara.

b) Bahwa tiap-tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam rangka pembelaan negara dan bangsa.

Dewasa ini kita menyaksikan bahwa kehidupan individu dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sedang mengalami perubahan. Dan kita juga menyadari bahwa faktor utama yang mendorong terjadinya proses perubahan tersebut adalah nilai-nilai kehidupan baru yang di bawa oleh negara maju dengan kekuatan penetrasi globalnya. Apabila kita menengok sejarah kehidupan manusia dan alam semesta, perubahan dalam kehidupan itu adalah suatu hal yang wajar, alamiah.

Dalam dunia ini, yang abadi dan kekal itu adalah perubahan. Berkaitan dengan wawasan nusantara yang syarat dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia dan di bentuk dalam proses panjang sejarah perjuangan bangsa, apakah wawasan bangsa Indonesia tentang persatuan dan kesatuan itu akan terhanyut tanpa bekas atau akan tetap kokoh dan mampu bertahan dalam terpaan nilai global yang menantang Wawasan Persatuan bangsa.

sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/

Pendidikan

Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik

Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik

a). Bahwa kebulatan wilayah nasional dengan segala isi dan kekayaannya merupakan satu kesatuan wilayah, wadah, ruang hidup, dan kesatuan matra seluruh bangsa serta menjadi modal dan milik bersama bangsa.

b). Bahwa bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan berbicara dalam berbagai bahasa daerah serta memeluk dan meyakini berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus merupakan satu kesatuan bangsa yang bulat dalam arti yang seluas-luasnya.

c). Bahwa secara psikologis, bangsa Indonesia harus merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa, dan setanah air, serta mempunyai tekad dalam mencapai cita-cita bangsa.

d). Bahwa Pancasila adalah satu-satunya falsafah serta ideologi bangsa dan negara yang melandasi, membimbing, dan mengarahkan bangsa menuju tujuannya.

e). Bahwa kehidupan politik di seluruh wilayah Nusantara merupakan satu kesatuan politik yang diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

f). Bahwa seluruh Kepulauan Nusantara merupakan satu kesatuan sistem hukum dalam arti bahwa hanya ada satu hukum nasional yang mengabdi kepada kepentingan nasional.

g). Bahwa bangsa Indonesia yang hidup berdampingan dengan bangsa lain ikut menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial melalui politik luar negeri bebas aktif serta diabdikan pada kepentingan nasional.

6) Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu Kesatuan Ekonomi

(a) Bahwa kekayaan wilayah Nusantara baik potensial maupun efektif adalah modal dan milik bersama bangsa, dan bahwa keperluan hidup sehari-hari harus tersedia merata di seluruh wilayah tanah air.

sumber :

https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/

 

Pendidikan

Konsep Peranan Dalam Hubungan Internasional

Konsep Peranan Dalam Hubungan Internasional

Konsep Peranan Dalam Hubungan Internasional

 

Kedudukan diartikan sebagai

tempat atau posisi seseorang dalam kelompok sosial mayarakatnya, sedangkan peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka secara tidak disadari ia telah menjalankan suatu peranan. Hal tersebut dikarenakan antara kedudukan dengan peranan tidak dapat dipisahkan seperti dua sisi mata uang, dimana keduanya saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Mochtar Mas’oed menyatakan bahwa peranan (role) adalah perilaku yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang yang menduduki suatu posisi. Ini adalah perilaku yang dilekatkan pada posisi tersebut, diharapkan berperilaku sesuai dengan sifat posisi tersebut. Dengan kata lain posisi seseorang dalam masyarakat merupakan unsur statis yang menunjukan tempat individu pada  organisasi masyarakat dengan begitu seseorang akan menjalankan suatu peranannya sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat. peranan mencakup tiga hal, yaitu (Levinson dalam Soekanto,1999:269):

  1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.

b.Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c.Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat

Menurut T. Coser dan Anthony Rosenberg dengan bukunya berjudul ”An Introduction to Internatioanl Politics” menggambarkan definisi peranan yakni: sebagai tuntutan yang diberikan secara struktural (norma-norma, harapan, larangan, tanggung jawab) dimana didalamnya terdapat serangkaian tekanan dan kemudahan yang menghubungkan, membimbing, dan mendukung fungsinya dalam organisasi (Coser dan Rosenberg, 1976:232-255).

Sebagaimana individu yang menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan perannya dalam organisasi kehidupan bermasyarakat begitu juga dengan organisasi internasional yang mempunyai peranan berbagai macam demi mewujudkan kepentingan negara anggotanya, yakni dapat berupa sebagai instrumen, arena (forum) dan aktor. Dalam menjalankan peranannya, organisasi internasional sangat mempengaruhi hubungan internasional melalui pelaksanaan dari fungsi-fungsi organisasi internasional mulai dari artikulasi dan agregasi, norma, rekrutmen, sosialisasi, pembuatan dan aplikasi peraturan, rule adjudication, dan informasi serta operasi.

  1. Organisasi internasional berperan sebagai instrumen, yakni organisasi internasional dipakai oleh anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu, biasanya terjadi pada IGO dimana negara berdaulat merupakan anggotanya yang dapat membatasi tindakan organisasi internasional. Menurut Executive Secretary dari UN Economic Commission for Europe, Gunnar Myrdal tentang peran tersebut menyatakan dalam pidatonya bahwa kesan yang ditimbulkan organisasi internasional dalam konstitusinya adalah mereka lebih dari bagian-bagiannya yaitu negara, dalam kasus tertentu organisasi internasional tidak lebih sebagai instrument bagi kebijakan pemerintah yang dapat digunakan sebagai alat untuk diplomasi dari berbagai negara berdaulat. Organisasi penting bagi pencapaian kebijakan nasional yang mana koordinasi multilateral tetap menjadi sasaran dan tujuan jangka panjang pemerintah nasional (Archer, 1983:130-131).

Pernyataan tersebut diperkuat oleh penemuan empiris dalam studi tentang IGO yang dilakukan oleh Mc Cormick dan Kihl yang menunjukkan bahwa IGO digunakan oleh negara terutama untuk mencapai tujuan kebijakan luar negerinya. Demikian juga yang terjadi pada INGOs dimana segala tindakannya mencerminkan perilaku dari anggotanya baik itu berupa kelompok dagang, organisasi bisnis, ataupun partai politik. Untuk menggambarkan organisasi internasional sebagai instrumen bagi anggotanya tidak berarti bahwa setiap keputusan yang diambil bertujuan untuk memenuhi keinginan setiap anggotanya. Suatu instrumen menunjukkan tujuannya bila memperlihatkan kegunaannya dalam periode waktu tertentu bagi mereka yang memanfaatkan jasanya. Kepuasan anggota lain tidak dapat dikurangi bila anggota lain memanfaatkan organisasi itu yang mana organisasi tersebut tidak digunakan sebagai senjata bagi mereka (Archer, 1983:130-136).

  1. Sebagai arena atau forum, dalam organisasi internasional terjadi aksi-aksi yang dilakukan oleh anggotanya yakni sebagai tempat pertemuan untuk berkumpul bersama-sama baik itu berupa berdiskusi, berdebat, ataupun bekerjasama. Yang dimaksud arena disini bersifat netral, artinya bahwa arena dalam organisasi internasional dapat dipakai sebagai tempat bersandiwara, sirkus atau pertengkaran. Organisasi internasional juga menyediakan kesempatan bagi para anggotanya untuk lebih meningkatkan pandangan atau opininya dalam suatu forum publik dimana hal seperti itu tidak dapat diperoleh dalam diplomasi bilateral (Archer, 1983:136-141).
  1. Sebagai aktor yang independen, dalam melaksanakan fungsi dan perannya, organisasi internasional dapat bertindak sesuai dengan kewenangan yang ada tanpa dipengaruhi oleh pihak-pihak atau kekuatan dari luar yang dapat dipergunakan oleh mereka sebagai alat untuk memenuhi kepentingan mereka. Menurut Wolfers, kapasitan aktor dari suatu institusi internasional tergantung resolusi, rekomendasi, perintah dari organ-organnya yang memaksa para anggota untuk bertindak berbeda dari keinginan masing-masing (Archer, 1983:141-147).

Baca Juga :

Pendidikan

Trafficking dapat diartikan sebagai

Trafficking dapat diartikan sebagai

Trafficking dapat diartikan sebagai

Kegiatan perdagangan perempuan atau anak

yang dilakukan dengan tujuan untuk eksploitasi untuk pelacuran, kerja, atau pelayanan paksa, pemindahan atau transplantasi dan seluruh tindakan yang melibatkan pemerasan dan pemanfaatan fisik, seksual , tenaga dan atau kemampuan seseorang oleh pihak lain dengan semena-mena untuk mendapatkan keuntungan materiil dan immaterial

Sedang menurut PBB, dalam the united nations protcol to prevent, suppress and punish trafficking in persons, especially women and children (2000),  trafficking didefinisikan sebagai berikut:

  1. “Trafficking in person” shall mean the recruitment, transportation, transfer, harboring or receipt of person, by means of the threat or use of force or other forms of coercion, of abduction, of fraud, of deception, of the abuse of power or a position of vulnerability or of the giving or receiving of payments or benefits to achieve the consent of a person having control over another person, for the purpose of exploitation. Exploitation shall include, at minimum, the exploitation of the prostitution of others or other forms of sexual exploitation, forced labour or services, slavery or practices similar to slavery, servitude or the removal of organs.
  1. The consent of a victim of trafficking in person to the intended exploitation set forth in subparagraph (1) of this article shall be irrelevant where any of the means set forth in subparagraph (1) have been used;
  1. The recruitment, transportation, transfer, harboring or receipt of a child for the pupose of exploitation shall be considered “trafficking in persons” even if this does not involve any of the means set forth in subparagraph (1) of this article;
  1. “Child” shall mean any person under eighteen years of age.

Yang diterjemahkan sebagai berikut:

  1. Perdagangan manusia berarti perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan orang dengan menggunakan berbagai ancaman atau paksaan atau bentuk-bentuk lain dari kekerasan, penculikan, penipuan, muslihat, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau pemberiaan atau penerimaan pembayaran atau keuntungan untuk mendapatkan izin dari prang yang memiliki kendali atas orang lain untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi termasuk paling tidak eksploitasi untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik-praktik serupa perbudakan, penghambaan, atau pengambilan organ tubuh.
  1. Perizinan atau persetujuan dari korban perdagangan manusia yang dimaksudkan, empat kumpulan eksploitasi dalam subparagraf (1) untuk artikel ini akan tidak relevan dimana pengertian lain dari empat kumpulan dalam paragraph (1) telah digunakan;
  1. Perekrutan, pengangkutan, pemindahan, atau penerimaan anak untuk tujuan eksploitasi akan dipertimbangkan dalam perdagangan manusia, meskipun jika hal ini tidak melibatkan berbagai pengertian dari empat kumpulan dalam sub paragraf (1) dari artikel ini;
  1. Anak berarti setiap orang yang usainya dibawah delapan belas tahun.

Trafficking merupakan suatu kejahatan yang terorganisir dan pada umumnya merupakan suatu bisnis yang menggiurkan dan dalam menjalankan bisnisnya cenderung mempengaruhi pemerintah dimana aktifitas kriminal seperti trafficking in person (child trafficking)drug trafficking dan money laundering menjadi salah satu pendapatan bagi negara, akan tetapi dilain sisi aktivitas kegiatan seperti ini dapat menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan perekonomian suatu negara.

Child trafficking yang kerap kali dilakukan oleh para trafficker memberikan dampak negatif bagi perkembangan jasmani ataupun rohani anak serta dapat merusak kebutuhan dasar seorang anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan merusak hak anak untuk bebas dari kekerasan dan eksploitasi seksual. 

Di Indonesia dan juga kebanyakan negara lain menilai bahwa child trafficking merupakan salah satu ancaman bagi stabilitas negaranya dimana kejahatan ini akan berkembang dengan subur dan dapat mendanai kejahatan terorganisir lainnya. Maka dari itu diperlukan penanganan secara khusus untuk memberantas child trafficking yang kini bukanlah suatu fenomena yang baru terjadi dikalangan masyarakat pada suatu negara. Anak yang merupakan titipan dari Tuhan dan merupakan salah satu aset bagi negara sudah seharusnya mendapatkan kenyamanan, keamanan, perlindungan baik itu jasmani mapun rohani agar dapat tumbuh dan berkembang serta dapat menikmati masa anak-anaknya sebagaimana mestinya. Untuk itu, kita sebagai orang dewasa baik itu pemerintah, masyarakat, keluarga maupun organisasi-organisasi yang berkaitan dengan anak-anak berkewajiban untuk merawat dan memberikan perlindungan dari segala bentuk kejahatan yang ada didunia.


Sumber: https://civitas.uns.ac.id/kasiono/seva-mobil-bekas/

Pendidikan

Trafficking dalam Kontek Organized Crime

Trafficking dalam Kontek Organized Crime

Trafficking dalam Kontek Organized Crime

Organized crime merupakan

salah satu core subject dalam hubungan internasional telah menjadi suatu fenomena yang luar biasa dimana keberadaannya telah menyita perhatian dunia internasional untuk lebih menanganinya secara mendalam. Organized crime merupakan efek samping yang ditimbulkan akibat modernitas dan globalisasi dimana setiap negara dituntun untuk mampu memicu laju pertumbuhan perekonomiannya, bertahan atau tergilas oleh negara lainnya yang lebih kuat serta menciptakan dunia tanpa batas. Bukan hanya state actors yang berperan dalam melawan organized crime tetapi juga kehadiran non state actors memberikan gerakan yang dinamis pada sistem internasional.

Kejahatan terorganisisr sebagai sebuah fenomena yang baru muncul dan meningkat ketika kejahatan seperti perdagangan, penyelundupan, pemerasan, pembajakan dan pemalsuan menjadi terorganisir melampaui batas negara secara efektif dan cenderung terjadi dalam sistem politik dan ekonomi yang kompleks. Semakin berkembangnya wacana kejahatan terorganisir menjadi transnational organized crime, muncul ketika negara mengalami evolusi yang luar biasa dalam peran dan pelaksanaan kekuasaannya, dimana dalam memerangi kejahatan terorganisir tak jarang aparat negara juga terlibat bahkan mendukung serta menjadi akses bagi pelaksanaan kegiatan ini maka tidak mengherankan bila kekuatan dan peranan hukum semakin melemah.

Melalui praktek penyuapan kepada aparat, memberikan kesempatan pada organisasi kejahatan untuk dapat berkembang dan tumbuh subur membangun kekuatan, membuat jaringan hingga melintasi batas negara, dan bermain sebagai aktor non negara di berbagai bidang yang tergantung pada keadaan kesejahteraan masyarakat dan kehidupan politik masing-masing negara. ”Trend” yang demikian terkadang juga terjadi didalam suatu masyarakat terbuka yang kacau karena ketidaksempurnaan dan ketidakstabilan dari pelaksanaan demokrasi dan tatanan kehidupan suatu negara.

Kejahatan lintas negara merupakan suatu kejahatan yang berdampak terhadap dua negara atau lebih dengan luas jaringan yang terbatas. Kejahatan lintas negara ini juga memiliki elemen lintas batas, baik yang dilakukan oleh orang (penjahat, kriminal, buronan, atau mereka yang sedang melakukan kejahatan) atau korban (seperti dalam kasus perdagangan atau penyelundupan manusia), atau oleh benda (senjata api, uang yang digunakan dalam kejahatan pencucian uang, obat-obat terlarang), atau oleh niatan kriminal (seperti penipuan melalui komputer). Walaupun bentuk-bentuk kejahatan transnasional telah ada sejak lama, namun saat ini isu tersebut dinilai sebagai ancaman keamanan baru (Vermonte; 2002:45).

Trafficking merupakan salah satu dari kejahatan lintas negara yang memerlukan penanganan yang serius antar pihak-pihak yang terkait dikarenakan keberadaannya yang akan membahayakan stabilitas keamanan suatu negara. Tidak adanya ketentuan yang baku akan definisi yang jelas mengenai trafficking serta terbatasnya pendefinisian akan trafficking, maka definisi trafficking memiliki arti yang berbeda pada masing-masing orang yang berbeda.


Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/seva-mobil-bekas/

Pendidikan

Menyimpan Prolehan Hasil Belajar

Menyimpan Prolehan Hasil Belajar

Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Proses belajar terdiri dari proses pemasukan, proses pengolahan kembali dan proses penggunaan kembali. Biasanya hasil belajar yang disimpan dalam jangka waktu yang panjang akan mudah dilupakan oleh siswa. Hal ini akan terjadi jika siswa tidak membuka kembali bahan belajar yang telah diberikan oleh guru.

Untuk mengatasi hal ini sebaiknya guru mengingatkan agar materi yang telah lama diberikan dibuka dan dipelajari kembali, serta guru memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Sehingga mau atau tidak mau siswa akan berusaha untuk mengingat kembali materi yang telah lama disampaikan serta membuka kembali buku yang berkaitan dengan materi tersebut. Sehingga ingatan yang disimpan dalam jangka waktu yang panjang akan teringat kembali.

  1. Menggali Hasil Belajar Yang Tersimpan.

Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal ini siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal ini siswa akan menggali atau membangkitkan kembali pesan dan pengalaman lama untuk suatu ujuk hasil belajar. Ada kalanya siswa mengalami gangguan dalam menggali pesan dan kesan lama. Gangguan tersebut bukan hanya bersumber pada penggalian atau pembangkitannya sendiri. Gangguan tersebut dapat dikarenakan kesukaran penerimaan, pengolahan dan penyimpanan.

Jika siswa tidak memperhatikan dengan baik pada saat penerimaan maka siswa tidak akan memiliki apa-apa. Jika siswa tidak berlatih sunggu-sungguh maka siswa tidak akan memiliki keterampilan (intelektual, sosial, moral, dan jasmani) yang baik.

  1. Kemampuan Berprestasi.

Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan. Siswa menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari disekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa yang tidak mampu berprestasi dengan baik. Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh pada proses-proses penerimaan, pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penympanan serta penggalian untuk pembangkitan pesan dan pengalaman.

baca juga :

Pendidikan

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang dialami dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar.

  1. Faktor-faktor Internal Belajar.

Didalam belajar siswa menghadapi masalah-masalah belajar secara internal. Jika siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak dapat belajar dengan baik. Faktor-faktor internal masalah belajar pada siswa antara lain sebagai berikut :

  1. Sikap Terhadap Belajar.

Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikannya begitu saja. Selama     melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut.             Pemahaman siswa yang salah terhadap belajar akan membawa siswa kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran tersebut. Sikap siswa ini akan mempengaruhinya terhadap tindakan belajar. Sikap yang salah akan membawa siswa merasa tidak peduli dengan belajar lagi. Akibatnya tidak akan terjadi proses belajar yang kondusif.

Tentunya hal ini akan sangat menghambat proses belajar. Sikap siswa terhadap belajar akan menentukan proses belajar itu sendiri.        Ketika siswa sudah tidak peduli terhadap belajar maka upaya pembelajaran yang dilakukan akan sia-sia, maka siswa sebaiknya mempertimbangkan masa-masa akibat sikap terhadap belajar.

  1.         Motivasi Belajar.

Tidak diragukan bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus.

Motivasi belajar merupakan kekuatan      mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.

Motivasi yang diberikan dapat meluputi penjelasan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan mencari ilmu. Bila siswa mengetahui betapa besarnya keutamaan sebuah ilmu dan betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menuntut ilmu, maka siswa akan merasa haus untuk menuntut ilmu. Selain itu bagai mana seorang guru mampu membuat siswanya merasa membutuhkan ilmu. Bila sesorang merasakan membutuhkan ilmu maka tanpa disuruhpun siswa akan mencari ilmu itu sendiri. Sehingga semangat siswa untuk menuntut ilmu sangat tinggi dan hal ini akan memudahkan proses belajar.

  1. Konsentrasi Belajar.

Konsenterasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian, guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan waktu belajar serta selingan istirahat. yang perlu diperhatikan oleh guru ketika memulai proses belajar ialah, sebaiknya seorang guru tidak langsung melakukan pembelajaran, namun seorang guru harus memusatkan perhatian siswanya terlebih dahulu sehingga siswa siap untuk melakukan pembelajaran. Sebab ketika awal masuk kelas perhatian siswa masih terpecah-pecah dengan berbagai masalah. Sehingga sangat perlu untuk melakukan pemusatan per

sumber :
https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/

Pendidikan

  Definisi Masalah Belajar

  Definisi Masalah Belajar

Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorangg, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “ Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

“Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya” ( Anita E, Wool Folk, 1995: 196 ).

Menurut ( Garry dan Kingsley, 1970: 15 ) “belajar adalah proses tingkah laku dalam arti luas), ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan”.

Sedangkan menurut Gagne ( 1984:77) bahwa  “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. Dari definisi masalah dan belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut:

“Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid akan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”.

Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murud-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.

Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.

sumber :

https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/

Pendidikan

EFEK HARGA DAN EFEK BIAYA

EFEK HARGA DAN EFEK BIAYA

EFEK HARGA DAN EFEK BIAYA
EFEK HARGA DAN EFEK BIAYA
Partisipasi anggota menentukan keberhasilan koperasi. Sedangkan tingkat partisipasi anggota di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : Besarnya nilai manfaat pelayanan koperasi secara utilitarian maupun normatif.
Motivasi utilitarian sejalan dengan kemanfaatan ekonomis. Kemanfaatan ekonomis yang di maksud adalah insentif berupa pelayanan barang-jasa oleh perusahaan koperasi yang efisien, atau adanya pengurangan biaya dan atau di perolehnya harga menguntungkan serta penerimaan bagian dari keuntungan (SHU) baik secara tunai maupun dalam bentuk barang.
Bila dilihat dari peranan anggota dalam koperasi yang begitu dominan, maka setiap harga yang ditetapkan koperasi harus di bedakan antara harga untuk anggota dengan harga untuk non anggota. Perbedaan ini mengharuskan daya analisis yang lebih tajam dalam melihat peranan koperasi dalam pasar yang bersaing.
1. Analisis Hubungan Efek Ekonomis dan Keberhasilan koperasi
Dalam badan usaha koperasi, laba (profit) bukanlah satu-satunya yang di kejar oleh manajemen, melainkan juga aspek pelayanan (benefit oriented). Di tinjau dari konsep koperasi, fungsi laba bagi koperasi tergantung pada besar kecilnya partisipasi ataupun transaksi anggota dengan koperasinya. Semakin tinggi partisipasi anggota, maka idealnya semakin tinggi manfaat yang di terima oleh anggota. Keberhasilan koperasi di tentukan oleh salah satu faktornya adalah partisipasi anggota dan partispasi anggota sangat berhubungan erat dengan efek ekonomis koperasi yaitu manfaat yang di dapat oleh anggota tsb.
2. Penyajian dan Analisis Neraca Pelayanan
Di sebabkan oleh perubahan kebutuhan dari para anggota dan perubahan lingkungan koperasi, terutama tantangantantangan kompetitif, pelayanan koperasi terhadap anggota harus secara kontinu di sesuaikan. Ada dua faktor utama yang mengharuskan koperasi meningkatkan pelayanan kepada anggotanya.
1. Adanya tekanan persaingan dari organisasi lain (terutama organisasi non koperasi).
2. Perubahan kebutuhan manusia sebagai akibat perubahan waktu dan peradaban. Perubahan kebutuhan ini akan menentukan pola kebutuhan anggota dalam mengkonsumsi produk-produk yang di tawarkan oleh koperasi.
Bila koperasi mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anggota yang lebih besar dari pada pesaingnya, maka tingkat partisipasi anggota terhadap koperasinya akan meningkat. Untuk meningkatkan pelayanan, koperasi memerlukan informasi-informasi yang dating terutama dari anggota koperasi.