Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Umum

Mineral Liat dan Koloid Organik

Mineral Liat dan Koloid Organik

Mineral Liat dan Koloid Organik

Mineral Liat dan Koloid Organik
Mineral liat merupakan bagian dari koloid tanah yang terdiri atas kelompok silikat dan bukan silikat. Kelompok liat silikat dapat pula dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan bertipe 1 : 1 dan golongan bertipe 2 : 1 (Budi dan Sari, 2015). Adapun sifat dari bertipe 1 : 1 (Kaolinit), sebagai berikut :
  1. Sumber muatan negatifnnya berasal dari ionisasi hidrogen dari gugus hidroksil pada pinggiran kristal yang patah.
  2. Tidak mempunyai permukaan dalam yang dapat mempertukarkan ion, berarti hanya pada permukaan luar.
  3. Kapasitas tukat kation relatif (10-20 me/100 g)
  4. Unit kristal diikat hidrogen
  5. Tidak mengembang bila basah dan tidak mencuit bila kering

 

Adapun sifat bertipe 2 : 1 (Montmorillanit)

  1. Sumber muatan negatif yang utama adalah dari subtitusi isomorfik (penggatian kation bervalensi tinggi oleh kation bervalensi rendah, dengan syarat radius atomnya relatif sama).
  2. Mempunyai permukaan dalam yang dapat mempertukaran ion.
  3. Kapasitas tukar kation relatif besar (40-100 me/100 g).
  4. Unit kristal diikat oleh oksingen melalui ikatan kristal lemah.
  5. Mengembangkan bila basah dan menciut bila kering.

 

Senyawa positif dapat terkait dengan muatan negatif mineral liat sehingga struktur tanah menjadi stabil. Ikatan tersebut membuat stabil senyawa organik, sehingga lebih tahan terhadap pelapukan. Akibatnya jumlah mineral liat mampu menentukan besar kecilnya nilai tukar kation. Dimana tanah dijumpai mineral liat tipe 2 : 1, seperti montmorilonit, vermikulit, illit dan lainnya, maka sebagian kalium dapat terfiksasi atau terikat masuk ke dalam kisi-kisi mineral tersebut. Sehinga tidak semua mineral liat dapat bersifat koloid, misalnya kristabolit (Budi dan Sari, 2015).
Koloid organik merupakan koloid tanah yang mempunyai nilai tukar kation 100 – 200 me/100 gram, liat 1 : 1 sebesar 10 – 20 me/100 gram dan liat 2 : 1 berkisar antara 40 – 80 me/100 gram. Koloid organik terutama asam humat merupakan komponen utama yang mengikat Cu. Kuatnya ikatan Cu dengan bahan organik masih dapat diusir oleh ion H.  Cu yang divalen sangat kuat berikatan dengan asam humat dan fulvat yang membentuk kompleks Cu-organik. Hubungan antara bentuk Cu yang tersedia bagi tanaman, Cu yang terfiksasi dan Cu terikat kuat oleh koloid organik (Budi dan Sari, 2015).
2.2 Pertukaran Kation dan Anion
Pertukaran kation merupakan pertukaran dengan muatan negatif dari koloid tanah dinetralkan oleh kation. Jumlah kation yang dapat ditukarkan dalam meliekuivalen dari tanah kering oven disebut sebagai Nilai Tukar Kation (NTK) dari suatu tanah. NTK dapat disebut juga dengan Kapasitas Tukar Kation (KTK). NTK suatu tanah dinyatakan dengan miliekuvalen (me) per 100 g tanah kering oven (me/100 g). KTK merupakan kation yang dinyatakan dalam me/100 g koloid. Koloid tanah mampu menyerap dan mempertukarkan sejumlah kation yang biasanya adalah Ca, Mg, K, Na, NH4, Al dan H. Pengaruh kuat atau lemahnya kation tersebut diserapkan tergantung pada velensinya (Budi dan Sari, 2015).
Penentuan NTK dilakukan dengan amonium karena kation yang diserap dapat digantikan oleh ion amonium (NH4) bila dijenuhi oleh 1,0 N NH4Ac. Jika tanah yang telah dijenuhi dengan NH4Ac diekstrak kembali dengan 1,0 N KCl, maka seluruh NH4 dapat digantikan oleh ion K. Jumlah NH4 yang tersaring ditetapkan melalui destilasi dan dinyatakan sebagai NTK dari tanah tersebut (Budi dan Sari, 2015).
Besar kecilnya NTK tanah ditentukan oleh jumlah dan jenis mineral liat, jumlah bahan organik dan pH dari tanah. Jadi semakin tinggi kadar liat semakin tinggi NTK dan semakin tinggi kandungan bahan organik tanah. Dalam penetapan NTK total dan NTK efektif dimulai dari kejenuhan basa dan kejenuhan Al (Budi dan Sari, 2015).
Pertukaran anion merupakan pertukaran melalui pengamatan ion fosfat yang tidak tercuci dari tanah dan fakta ion fosfat dapat dikeluarkan melalui ekstraksi dengan bermacam-macam garam, asam dan larutan basa menjadi problem solving. Ion sulfat yang terserap pada liat 1 : 1 dan hidroksida dari Fe dan Al dapat diekstrak dengan larutan kalium fosfat dan kemudian diekstrak dengan air. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam tanah juga terjadi pertukaran anion (Budi dan Sari, 2015).
Pertukaran anion terjadi akibat adanya hasil penggantian ion CH dari hidroksida Fe dan Al dan akibat timbulnya muatan positif pada permukaan koloid sebagai hasil protonasi pada perubahan pH tanah. Anion yang dapat ditukarkan adalah F, HmoO4, HSiO2, H2BO2, HCO2 (Budi dan Sari, 2015).
Categories:
Umum
You Might Also Like