Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Pendidikan

 Ijmak (kesepakatan ulil amri)

 Ijmak (kesepakatan ulil amri)

 Ijmak (kesepakatan ulil amri)

  1. Pengertian

Ijma’ menurut bahasa, artinya : sepakat, setuju, atau sependapat. Dan menurut ilmu fikih, ijmak artinya, kesatuan pendapat dari ahli-ahli hukum (ulama-ulama fikih) islam dalam satu masalah dalam satu masa dan wilayah tertentu. ijmak tidak boleh bertentangan dengan alquran dan sunah Rasulullah SAW.

Ijmak ada dua macam, yaitu:

  1. Ijmak bayani, adalah pendapat dari para ahli hukum (fikih) yang mengeluarkan pendapatnya untuk menentukan suatu masalah.
  2. Ijmak sukuti, adalah suatu pendapat dari seseorang atau beberapa ahli hukum, tetapi ahli-ahli hukum lainnya tidak membantah.misalnya, semasa hidup nabi, nabi melakukan salat tarawih sebanyak 8 rakaat di zaman Umar Bin Khattab ra. 20 rakaat tidak ada sahabat yang membantah, maka salat tarawih di terima dengan ijmak sukuti.
  1. Kedudukan Ijma’ Sebagai Sumber Hukum

Kebanyakan ulama menetapkan bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber hukum islam dalam menetapkan sesuatu hukum dengan nilai kehujjahan bersifat dzhanny. Golongan syi’ah memandang bahwa ijma’ ini sebagai hujjah yang harus diamalkan. Sedang ulama-ulama Hanafi dapat menerima ijma’ sebagai dasar hukum, baik ijma’ qath’iy maupun dzhanny. Sedangkan ulama-ulama Syafi’iyah hanya memegangi ijma’ qath’iy dalam menetapkan hukum.

Dalil penetapan ijma’ sebagai sumber hukum islam ini antara lain adalah :

Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 :

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu”.

Yang dimaksud “ulil amri” ialah orang-orang yang memerintah dan para ulama. Menurut hadits:

Artinya:

“Ummatku tidak bersepakat atas kesesatan”.

Menurut sebagian ulama bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri fid-dunya, yaitu penguasa, dan Ulil Amri fid-din, yaitu mujtahid. Sebagian ulama lain menafsirkannya dengan ulama.

Ijma’ ini menempati tingkat ketiga sebagai hukum syar’iy, yaitu setelah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari pemahaman seperti ini, pada dasarnya ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hukum sesuatu peristiwa yang di dalam Al-Qu’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya.

baca juga ;

Categories:
Pendidikan
You Might Also Like