Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Kategori: Pendidikan

PendidikanUmum

Ciri-ciri dan Morfologi Bunga Sepatu

Ciri-ciri dan Morfologi Bunga Sepatu

Ciri-ciri dan Morfologi Bunga Sepatu

Tanaman bunga sepatu tergolong ke dalam tanaman perdu atau semak tahunan yang tumbuh tegak. Tanaman ini dapat mencapai tinggi 3 meter. Jika Anda sama sekali belum mengenal tanaman ini, silakan lihat tampilan gambar bunga sepatu dibawah ini!

  1. Bunga

Bunga sepatu adalah bunga tunggal berbentuk terompet dengan diameter sekitar 6 cm hingga 20 cm. Setiap bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak, yang masing-masing dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx). Hal ini membuat kelopak bunga seperti terdiri dari dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar dengan warna yang tergantung dari jenis kultivarnya.

Bunga sepatu terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian steril dan bagian fertil. Bagian steril adalah bagian bunga yang bukan merupakan organ reproduksi. Bagian steril bunga terdiri dari ibu tangkai bunga (pedunculus), tangkai bunga (pedicellus), daun pelindung (brachtea), dasar bunga (receptacle), daun tangkai (brachteola), dan perhiasan bunga yang meliputi kelopak bunga (sepal) dan mahkota bunga (petal). Berbeda dengan bagian steril, bagian fertil bunga adalah bagian yang merupakan organ reproduksi yang benang sari dan putik (pistillum). Untuk memudahkan pemahaman Anda, (Ayatul, 2013).

Struktur Bunga Sepatu, secara anatomi, daun kelopak dan daun mahkota bunga sepatu memiliki struktur sama yakni terdapat banyak sel parenkimatis. Dimana, parenkim ini disebut mesofil. Parenkim terletak di antara bagian epidermis bawah dan atas. Daun kelopak biasanya memiliki struktur sederhana. Daun kelopak di bagian luarnya dilapisi oleh stomata, kutin, dan trikomata. Sel-sel daun kelopak ini juga mengandung zat hijau daun (klorofil). Sel-selnya daun mahkota bunga sepatu mempunyai banyak berkas jaringan pengangkut yang ukurannya kecil. Daun ini memiliki epidermis yang berbentuk khusus berupa tonjolan yang disebut papila. Papila ini dilapisi kutikula.

Sementara itu, putik dan benang sari memiliki struktur yang sangat berbeda. Secara umum, benang sari bunga sepatu terdiri atas kepala sari dan tangkai sari. Tangkai sari tersusun oleh jaringan dasar berupa banyak sel parenkimatis yang memiliki vakuola yang tak beruang antar-sel. Pada epidermis tangkai sari terdapat trikomata, kutikula, dan stomata. Kepala sari mempunyai struktur yang kompleks, terdiri atas dinding yang berlapis, dan di bagian paling dalam terdapat ruang sari (lokulus) yang berisi butir-butir serbuk sari. Jumlah lapisan dinding kepala sari untuk setiap jenis tumbuhan berbeda.

  1. Buah dan Biji

Pada umumnya, tanaman bunga sepatu bersifat steril sehingga tidak menghasilkan buah, namun pada beberapa kultivar khusus buah tetap dihasilkan. Buah bunga sepatu berukuran kecil berbentuk bulat lonjong dengan diameter 4 mm. Biji bunga sepatu berwarna putih ketika masih muda dan berubah menjadi coklat setelah tua.   Biji ini dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan generatif jika Anda ingin mencoba membudidayakannya.

  1. Batang Daun dan Akar

Batang tanaman bunga sepatu berbentuk bulat, berkayu, dan keras. Diameter batang berukuran 9 cm dan ketika masih muda berwarna ungu dan setelah tua berwarna putih kotor. Daun bunga sepatu adalah daun tunggal. Tepi daun beringgit dengan ujung runcing dan berpangkal tumpul. Panjang rata-rata daun 10 sampai 16 cm dan lebar 5 sampai 11 cm. Akar bunga sepatu adalah akar tunggal dengan panjang rata-rata 30 sampai 60 cm berwarna coklat muda.

  1. Cara Perbanyakan Bunga Sepatu

Bunga sepatu tumbuh di tempat terbuka dengan sinar mantahari langsung sepanjang waktu sangat disukai. Selain itu dia juga menyukai iklim di daerah tropis yang relatif stabil. Apalagi bila ditunjang dengan persyaratan tanah yang ideal baginya. Jika masa berbunga sudah mulai berkembang perlu dilakukan pemangkasan pada ranting-ranting yang tidak produktif lagi. Pemangkasan bentuk perlu diterapkan pada pertanaman yang berfungsi sebagai pagar. Tinggi tanaman dipertahankan pada ketiggian 1-2 meter.

Stek batang yang telah mulai membentuk kayu dan cangkok pada ranting yang telah berbunga merupakan dua cara termudah untuk perbanyakan tanaman bunga sepatu. Permbentukan buah jarang terjadi secara alamiah, karena putik dan benangsari matang tidak bersamaan, selain itu letaknya sangat berjauhan, sehingga penyerbukan jarang terjadi


Sumber:

https://works.bepress.com/m-lukito/8/

Pendidikan

Langkah Penelitian Geografi

Langkah Penelitian Geografi

Langkah Penelitian Geografi

Metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2009 : 3), sedangkan penelitian geografi adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan dengan langkah-langkah secara sistematis untuk memecahkan suatu permasalahan geografi yang meliputi ruang sebagai suatu region sebagai obyek penelitian (Nur Maharani, 2013 : 18).

  1. Menentukan Masalah

Penelitian dilakukan dengan tujuan mendapatkan data yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Untuk itu langkah awal yang harus dilakukan dalam melakukan penelitian adalah memilih masalah yang akan diteliti. Masalah adalah penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan (Sugiyono, 2009 : 52). Misalnya: Pegawai yang terbiasa menggunakan mesin ketik manual harus ganti dengan computer, maka akan terjadi masalah karena tidak terbiasa; Setiap pergantian menteri akan diikuti pergantian kebijakan pendidikan, sehingga siswa harus menyesuaikan dengan kebijakan yang baru.

Masalah yang dipilih dalam penelitian geografi harus memenuhi kriteria, antara lain:

  1. Masalah menyatakan hubungan antar dua variable, variable bebas mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variable terikat. Kedua variable ini harus saling berhubungan satu sama lain.
  2. Masalah dinyatakan dalam kalimat tanya.
  3. Masalah dapat diteliti dan memungkinkan adanya ketersediaan data.

Masalah yang dipilih untuk dijadikan bahan penelitian tentu saja akan berpengaruh terhadap hasil akhir penelitian. Penelitian yang baik adalah penelitian yang membahas mengenai masalah yang menarik untuk dikaji dan akan berguna untuk kepentingan masyarakat luas ataupun lembaga terkait dalam pengambilan keputusan.

 

  1. Menyusun Rumusan Masalah

Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Jika masalah adalah kesenjangan antara yang diharapkan dan yang terjadi, maka rumusan masalah merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Namun demikian, terdapat hubungan yang erat antara masalah dan rumusan masalah, karena setiap perumusan masalah harus didasarkan pada masalah. Contoh rumusan masalah:

  1. Seberapa tinggi minat baca siswa Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta?
  2. Adakah perbedaan prestasi belajar antara siswa dari sekolah negeri dan swasta?
  3. Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa?
  4. Menentukan Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Jika ada pertanyaan: Apa yang Anda teliti? Maka jawabannya berkenaan dengan variable penelitian.

Secara teoritis variable diartikan sebagai atribut seseorang atau obyek yang memiliki “variasi” antara satu dengan yang lainnya. Tinggi, berat badan, usia, sifat, kedisiplinan, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk dan warna adalah atribut-atribut yang dimiliki oleh suatu obyek.

Menurut hubungan antara satu variable dengan variable lain, maka macam-macam variable dapat dibedakan menjadi:

  1. Variable Independen (bebas): variable yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan dan timbulnya variable dependen.
  2. Variable Dependen (terikat): variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variable bebas.
  3. Variable Moderator: variable yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variable independen dan dependen.
  4. Variable Intervening: variable yang mempengaruhi hubungan antara variable independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diukur atau diamati. Variable ini merupakan penyela/antara yang terletak antara variable independen dan dependen, sehingga variable independen tidak langsungmempengaruhi berubahnya atau timbulnya variable dependen.

Contoh: Tinggi rendahnya penghasilan akan mempengaruhi secara tidak langsungterhadap harapan hidup (panjang pendeknya umur). Dalam hal ini ada variable antaranya, yaitu gaya hidup seseorang.

  1. Variable Kontrol: variable yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variable independen dan dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variable ini sering digunakan untuk melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.

Contoh: pengaruh jenis pendidikan terhadap ketrampilan mengetik. Variable independennya pendidikan (SMA dan SMK). Variabel kontrol yang ditetapkan sama, misalnya: naskah yang diketik sama, mesin tik yang digunakan sama, ruang tempat mengetik sama.

  1. Menentukan Landasan Teori

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah selanjutnya dalam proses penelitian adalah mencari teori-teori, konsep, dan generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk melaksanakan penelitian (Sumadi, 1990). Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori.

Teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proporsi yang tersusun secara sistematik sehingga dapat berguna untuk menjelaskan fenomena (Cooper and Schindler, 2003). Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu:

  1. Fungsi menjelaskan (explanation), contohnya: jika besi dipanaskan akan memuai.
  2. Fungsi meramalkan (prediction), contohnya: jika besi dipanaskan hingga suhu 75°C berapa pemuaiaannya?
  3. Fungsi pengendalian (control). Contohnya: berapa jarak sambungan rel kereta api yang paling sesuai dengan iklim tropis di Indonesia agar pemuaiaan rel tidak mengganggu jalannya kereta api?

Deskripsi teori berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap serta mendalam dari berbagai sumber, sehingga landasan yang dijadikan pedoman teori menjadi kuat dan valid. Jumlah teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan akan tergantung pada permasalahannya. Semakin lengkap referensi yang digunakan, maka landasan teori semakin baik.

  1. Menyusun Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran adalah model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka pemikiran berawal dari perumusan masalah yang akan diangkat dalam penelitian. Selanjutnya variable-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan secara teoritis sesuai dengan landasan teori dan dapat pula merujuk pada penelitian yang relevan. Secara teoritis perlu dijelaskan pula hubungan antara variable bebas dan terikat, sehingga tujuan dan arah penelitian dapat diketahui dengan jelas. Kemudian hubungan antar variable tersebut dianalisis dan dibandingkan, yang akan menghasilkan kerangka pemikiran. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut barulah dirumuskan hipotesis.

  1. Perumusan Hipotesis

Perumusan hipotesis adalah langkah selanjutnya dalam penelitian setelah peneliti mengemukakan perumusan masalah, landasan teori dan kerangka pemikiran.

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah tersebut dinyatakan dalam kalimat tanya. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui pengambilan data.

Penelitian yang menggunakan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif sifatnya eksploratif sehingga tidak merumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan nantinya akan ditemukan hipotesis.

  1. Menentukan Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subyek atau obyek yang memiliki karakteristik tertentu, yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda lainnya. Populasi bukan hanya jumlah, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek tersebut.

Misalnya, kita akan meneliti di sekolah X, maka sekolah X merupakan populasi karena memiliki sejumlah subyek (guru, siswa, karyawan) dan obyek (ruang kelas, perpustakaan, sarana belajar). Namun demikian, sekolah X juga memiliki karakteristik subyeknya, misalnya kompetensi guru, motivasi belajar siswa, disiplin kerja karyawan. Sekolah X juga memiliki karakteristik obyek, misalnya tata ruang kelas, kebijakan dan tata tertib sekolah. Semua ini adalah populasi karena dapat diteliti dan dijadikan sumber data.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang dapat mencerminkan dan mewakili keseluruhan populasi. Bila jumlah populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat mengambil sampel yang benar-benar representative (mewakili).

  1. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu:Probability Sampling dan Nonprobability Sampling.

  1. Probability Sampling: teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
  2. Nonprobability Sampling: teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi:
  3. Teknik  Pengumpulan Data

Pengumpulan data berdasarkan terkniknya antara lain sebagai berikut:

  1. Interview (wawancara): teknik pengumpulan data yang didasarkan pada self report(laporan diri sendiri) atau pada keyakinan diri sendiri. Jadi keterangan responden harus benar dan dapat dipercaya karena berdasarkan pengalaman pribadi mereka sendiri. Misal ingin meneliti tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, sebaiknya yang menjadi responden adalah mantan pejuang yang mengalami perang secara langsung (jika masih hidup), bukan anak atau bahkan cucunya. Jika tidak ada lagi pejuang yang masih hidup, maka sebaiknya memilih ahli sejarah sebagai respondennya.

Keunggulan dari wawancara adalah peneliti dapat memperoleh keterangan secara mendalam dari responden, bahkan dalam prakteknya sering menemukan keterangan/hal-hal baru yang tidak diperkirakan sebelumnya.

  1. Kuesioner (angket): teknik pengumpulan data dengan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis yang akan dijawab/diisi oleh responden. Pertanyaan sebaiknya singkat, padat dan jelas; bahasa yang digunakan juga harus mudah dimengerti oleh responden; pertanyaan harus seimbang dan tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau yang jelek saja; penampilan fisik kuesioner harus rapi dan menarik. Kuesioner cocok digunakan apabila jumlah respondennya banyak dan tersebar di wilayah yang luas karena dapat dikirim lewat pos atau e-mail.
  2. Observasi: teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap orang, obyek alam, masyarakat, atau fenomena tertentu. Teknik observasi digunakan apabila penelitian yang dilakukan berhubungan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam. Proses pengamatan dilakukan secara menyeluruh agar data yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

 

  1. Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul perlu diolah agar keakuratan hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan. Tahap-tahap pengolahan data adalah sebagai berikut:

  1. Editing Data, yaitu kegiatan meneliti kembali (pemeriksaan) data yang telah terkumpul,  indicator yang perlu diteliti adalah sebagai berikut:

1)      Kelengkapan data sesuai daftar kebutuhan data

2)      Kesesuaian dan relevansi data hasil pengamatan dengan kebutuhan data

3)      Keseragaman data hasil penelitian, misalnya menggunakan satuan meter pada data hasil pengukuran obyek di lapangan.

Peneliti dapat memperbaiki data hasil penelitian, baik berupa data studi lapangan atau jawaban responden. Misalnya, responden lupa mengisi kolom jenis kelamin.

  1. Coding, pembuatan kode (coding) merupakan kegiatan pengklasifikasian data sesuai jenis dengan memberikan identitas angka atau huruf sehingga memudahkan pengolahan dan analisis data. Misalnya jenis kelamin laki-laki diberi identitas angka 1 dan perempuang dengan angka 2.
  2. Tabulasi Data, data yang sudah diklasifikasikan kemudian dimasukkan ke dalam tabel dengan maksud agar lebih mudah dibaca dan dianalisis.

 

  1. Analisis Data

Analisis data adalah kegiatan yang dilakukan setelah data dari responden dan sumber data lain terkumpul. Secara umum analisis data dapat dilakukan dengan:

  1. Deskriptif, yaitu menganalisis data dengan cara menggambarkan dan menjelaskan data yang sudah terkumpul secara apa adanya sesuai dengan yang ada di lapangan tanpa melakukan generalisasi atau kesimpulan secara umum. Umumnya digunakan untuk mengolah data kualitatif. Misalnya menjelaskan fenomena terjadinya banjir (gejala fisik) dan menjelaskan penyebab terjadinya urbanisasi ke kota-kota besar (gejala social).
  2. Statistik, yaitu analisis data menggunakan statistic untuk  menganalisis data sampel yang sudah terkumpul. Umumnya digunakan untuk mengolah data kuantitatif.

Sumber:

https://works.bepress.com/m-lukito/7/

Pendidikan

Jenis Archetype

Jenis Archetype

Jenis Archetype
Jenis Archetype

Terdapat dua belas archetype, dengan setiap archetype terdapat informasi berupa gambaran umum, bagaimana individu dengan archetype yang aktif tersebut menghadapi dan menyelesaikan masalah, kecenderungan apa yang terjadi jika archetype tersebut dominan dalam diri seorang individu, cerita-cerita yang bagaimana yang menarik individu disesuaikan dengan archetype, tipe kepemimpinan, dan kebutuhan terdasar yang menjadi landasan motivasi individu dalam melakukan sesuatu.

Ke-12 jenis archetype itu adalah innocent, orphan, warrior, caregiver, seeker, lover, destroyer, creator, ruler, magician, sage, dan jester.

The Innocent
Individu dengan archetype innocent adalah individu yang melihat dunia sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk hidup, mereka percaya bahwa dunia penuh dengan kebaikan dan keadilan. Oleh karena itu mereka sangat mudah percaya pada orang lain, karena merasa bahwa semua orang adalah baik. Harapan, kenaifan dan optimistik adalah ciri khas dari individu innocent, mereka sadar bahwa kebahagiaan datang dari menghidupkan hal-hal sederhana.

Jika dihadapkan pada masalah, mereka biasanya akan menghadapinya dengan berpikir positif, atau melihat sebuah masalah sebagai sebuah kesempatan. Menyelesaikan dengan strategi tradisional, misalnya mencari ahlinya untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan, sementara tetap berpegang pada kepercayaan bahwa masalah pasti terselesaikan, dan kepercayaan bahwa akan ada orang lain yang bersedia membantu menyelesaikan masalah.

Individu dengan archetype innocent cenderung memperhatikan kebaikan, apa yang dapat dipercaya dan bermanfaat dalam hidup dan dalam diri orang lain, dan mereka melupakan adanya sisi bahaya, ancaman dari orang lain, dan bagaimana sulit dan kerasnya hidup untuk orang lain.

Innocent mempunyai kecenderungan menyepelekan dan menyederhanakan masalah dan kesulitan sehingga tekadang melewatkan banyak masalah, dan hal-hal kecil yang sebenarnya penting untuk diselesaikan atau ditangani. Optimis berlebih dan sangat percaya diri bahwa sebuah masalah pasti dapat diselesaikan dengan baik, terlalu percaya dan bersandar pada orang lain, sehingga kadang membuat orang lain merasa terbebani atau bahkan mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan dari innocent.

Innocent biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana seseorang yang baik dapat dengan sukses bernegosiasi dengan tantangan, konflik dan masalah, dengan kombinasi antara keberuntungan, nasib baik, ketekunan, dan optimistic dalam mencapai sesuatu. Cerita-cerita tersebut biasanya dapat ditemukan dalam film, misalnya Forrest Gump.

Tipe kepemimpinan innocent adalah mereka sangat baik dalam memberikan inspirasi pada orang lain, dapat mengidentifikasi kesempatan dengan baik, mempertahankan keriangan dan semangat dalam memimpin.

Kebutuhan dasar: adalah untuk tetap mempertahankan harapan, walaupun dalam keadaan sesulit apapun. Innocent juga mempunyai kebutuhan untuk selalu dilihat baik dan positif oleh sekitar, sehingga mereka biasanya menghindari hal-hal yang dapat membuat mereka terlihat buruk, atau merugikan orang lain.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Pendidikan

Archetype

Archetype

Archetype
Archetype

Terdapat berbagai definisi konseptual mengenai archetype, antara lain:

The invisible patterns in the mind that control how we experience the world” (Pearson, 1991)

Narrative structures, themes,and defineable characters that if achived, give us temporary sense of success, fulfillment, and statisfaction” (Pearson&Marr,2002)

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat dikatakan bahwa archetype adalah:

struktur, tema, atau karakter utama yang merepresentasikan diri seseorang, yang mempengaruhi cara individu mempersepsikan pengalamannya, yang menggambarkan kebutuhan dasar individu yang berusaha dipenuhi.

Archetype mengkomunikasikan dan mendasari pengekspresian keinginan-keinginan dasar, arti dan tujuan hidup, dan motivasi seseorang, dimana dalam pengekspresiaan tersebut, setiap individu mempunyai gaya, dan kekhasan masing-masing, yang berbeda satu sama lain tergantung archetype yang dominan dan aktif dalam diri individu.

Fungsi dari archetype sendiri bagi individu adalah mempengaruhi cara pandang seorang individu terhadap sebuah kejadian, terhadap diri sendiri, kebutuhannya, dan apa yang kita mau, apa yang mau kita pelajari, dan lain-lain; selain itu archetype juga yang membantu seseorang dalam menemukan pemenuhan keinginan dasarnya sehingga adanya kepuasan dalam hidup.

Pendidikan

DMZ in Computer Networking

DMZ in Computer Networking

DMZ in Computer Networking
DMZ in Computer Networking

local area networks (LANs).
In a DMZ configuration, most computers on the LAN run behind a firewall connected to a public network like the Internet. One or more computers also run outside the firewall, in the DMZ. Those computers on the outside intercept traffic and broker requests for the rest of the LAN, adding an extra layer of protection for computers behind the firewall.
Traditional DMZs allow computers behind the firewall to initiate requests outbound to the DMZ. Computers in the DMZ in turn respond, forward or re-issue requests out to the Internet or other public network, as proxy servers do. (Many DMZ implementations, in fact, simply utilize a proxy server or servers as the computers within the DMZ.) The LAN firewall, though, prevents computers in the DMZ from initiating inbound requests.
DMZ is a commonly-touted feature of home broadband routers. However, in most instances these features are not true DMZs. Broadband routers often implement a DMZ simply through additional firewall rules, meaning that incoming requests reach the firewall directly. In a true DMZ, incoming requests must first pass through a DMZ computer before reaching the firewall.

Baca Juga : 

Pendidikan

SABUK INTEN Karya SH Mintarja 004

SABUK INTEN Karya SH Mintarja 004

SABUK INTEN Karya SH Mintarja 004
SABUK INTEN Karya SH Mintarja 004

PERISTIWA semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi.

“Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit.

“Siapa namamu?”

Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya.

“Namaku Mahesa Jenar.”

Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa.

“Bagus…” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.”

Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya.

“Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.”

“Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar.

Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras.

“Bicaralah!” Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.”

Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah.

“Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.”

Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum.

Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar.

Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar.

Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah.

Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.

Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala.

Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Gagak Ijo cukup waspada.

Baca juga : 

 

Pendidikan

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja
NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja

TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu.

Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak.

Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya.

Apakah yang aneh padaku?” pikirnya.

Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo.

Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup.

Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu.

Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya.

Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima.

Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat.

Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang.

Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya.

Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu.

Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya.

Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal.

Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya.

Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya.

Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang.”

Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah.

“Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.

Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.”

Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya …? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya.
Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo bilang!

Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak.”

Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini.

Sumber : https://andyouandi.net/

Pendidikan

Nagasasra dan Sabuk Inten

Nagasasra dan Sabuk Inten

Nagasasra dan Sabuk Inten
Nagasasra dan Sabuk Inten

AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar.

Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.

Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.

Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.

Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut.

Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan.

Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.

Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.

Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.

Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.

Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.

Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.

Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.

Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu.

Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap.

Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.

Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu.

Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000.

Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.

Sumber : https://aziritt.net/

Pendidikan

Definsi serta pengertian psikologi agama menurut para ahli

Definsi serta pengertian psikologi agama menurut para ahli

Definsi serta pengertian psikologi agama menurut para ahli

Pengertian psikologi agama menurut para ahli

Jalaludin (1979:77)

berpendapat bahwa Psikologi Agama menggunakan dua kata yaitu Psikologi dan Agama, kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Dimana Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab, sedangkan agama adalah kepercayaan manusia (keyakinan), jadi psikologi agama adalah perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.

Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1970:11)

psikologi agama adalah meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang yang mempelajari berapa besar pengaruh kenyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Di sampinga itu, psikologi agama jua mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.

Robert H. Thouless : 25

berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan megaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan.

Baca juga:

Pendidikan

Penggunaan Huruf Kapital

Penggunaan Huruf Kapital

Penggunaan Huruf Kapital
Penggunaan Huruf Kapital

Pada saat tes atau ujian mata pelajaran bahasa Indonesia, banyak dimunculkan soal EYD tentang penggunaan huruf kapital. Penggunaan huruf kapital sudah menjadi dasar dalam penulisan teks bahasa Indonesia sesuai dengan aturan yang diberlakukan dalam EYD. Nah, kali ini DapurImajinasi akan membagikan soal latihan EYD tentang penggunaan huruf kapital. Soal ini bisa menjadi rujukan bagi guru atau siswa untuk berlatih memahami aturan penggunaan huruf kapital. Silakan komentar di kolom bawah atau kirim pertanyaan melalui laman kontak.

(Baca juga: Pedoman Aturan Ejaan yang Disempurnakan)
Kerjakan soal berikut dengan memilih jawaban yang paling benar dan tepat!
1. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Pada Hari Minggu aku ikut ayah ke kota.
b. Pada hari Minggu aku ikut Ayah ke kota.
c. Pada hari minggu aku ikut Ayah ke kota.
d. Pada hari minggu aku ikut ayah ke kota.

2. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Ayah membeli sapi ke kabupaten boyolali.
b. Ayah membeli Sapi ke Kabupaten Boyolali.
c. Ayah membeli sapi ke kabupaten Boyolali.
d. Ayah membeli sapi ke Kabupaten Boyolali.

3. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Orang suku Jawa itu pandai bahasa Sunda.
b. Orang Suku Jawa itu pandai Bahasa Sunda.
c. Orang suku jawa itu pandai bahasa sunda.
d. Orang suku Jawa itu pandai Bahasa Sunda.

4. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Aku bangga menjadi bangsa Indonesia.
b. Aku bangga menjadi Bangsa Indonesia.
c. Aku bangga menjadi bangsa indonesia.
d. Aku Bangga menjadi bangsa Indonesia.

5. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Ayah menanam bunga mawar dan melati.
b. Ayah menanam bunga Mawar dan Melati.
c. Ayah menanam Bunga Mawar dan Melati.
d. Ayah menanam Bunga mawar dan melati.

6. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Pulau Jawa dan Pulau Bali dipisahkan selat.
b. Pulau Jawa dan pulau Bali dipisahkan selat.
c. Pulau Jawa dan Pulau Bali dipisahkan Selat.
d. Pulau Jawa dan pulau Bali dipisahkan Selat.

7. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Orang yang pandai tari jaipong itu mau menjadi presiden.
b. Orang yang pandai Tari Jaipong itu mau menjadi presiden.
c. Orang yang pandai tari Jaipong itu mau menjadi presiden.
d. Orang yang pandai tari Jaipong itu mau menjadi Presiden.

8. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Aku percaya kepada Tuhan Yang Maha kuasa.
b. Aku percaya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
c. Aku percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
d. Aku percaya kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

9. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan secara benar?
a. Umat agama Islam beribadah di masjid.
b. Umat Agama Islam beribadah di masjid.
c. Umat agama Islam beribadah di Masjid.
d. Umat Agama Islam beribadah di Masjid.

10. Manakah kalimat yang menggunakan ejaan huruf kapital secara benar?
a. Peringatan hari Kartini dilakukan pada 21 April.
b. Peringatan Hari Kartini dilakukan pada 21 april.
c. Peringatan Hari Kartini dilakukan pada 21 April.
d. Peringatan hari kartini dilakukan pada 21 april.

(Baca juga: 15 Fungsi Huruf Kapital dalam Bahasa Indonesia)
11. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Kita harus menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
b. Kita harus menyembah Tuhan yang Maha Esa.
c. Kita harus menyembah Tuhan Yang Mahaesa.
d. Kita harus menyembah Tuhan yang Mahaesa.

12. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Aku membaca cerita “Gajah yang Kecil”.
b. Aku membaca Cerita “Gajah Yang Kecil”.
c. Aku membaca cerita “Gajah Yang Kecil”.
d. Aku membaca cerita “gajah yang kecil”.

13. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Ana berkata, “aku berasal dari Kota Solo.”
b. Ana berkata, “Aku berasal dari Kota Solo.”
c. Ana berkata, “Aku berasal dari kota Solo.”
d. Ana berkata, “Aku berasal dari kota solo.”

14. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Aku paham sejarah perang Badar.
b. Aku paham sejarah perang badar.
c. Aku paham sejarah Perang Badar.
d. Aku paham Sejarah Perang Badar.

15. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Dik Mei lahir di Bulan Desember.
b. Dik mei lahir di bulan Desember.
c. Dik mei lahir di Bulan Desember.
d. Dik Mei lahir di bulan Desember.

16. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Acara itu dikunjungi gubernur Jawa Tengah.
b. Acara itu dikunjungi gubernur jawa Tengah.
c. Acara itu dikunjungi Gubernur Jawa Tengah.
d. Acara itu dikunjungi gubernur jawa tengah.

17. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Setelah menyeberangi Selat Bali, Dika makan Selat Solo.
b. Setelah menyeberangi selat Bali, Dika makan selat solo.
c. Setelah menyeberangi selat Bali, Dika makan selat Solo.
d. Setelah menyeberangi Selat Bali, Dika makan selat Solo.

18. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Ardi membeli kunci inggris di negara Inggris.
b. Ardi membeli kunci Inggris di negara Inggris.
c. Ardi membeli Kunci Inggris di Negara Inggris.
d. Ardi membeli Kunci Inggris di Negara Inggris.

19. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Aku membaca undang-undang dasar 1945.
b. Aku membaca Undang-undang Dasar 1945.
c. Aku membaca Undang-Undang Dasar 1945.
d. Aku membaca undang-undang Dasar 1945.

20. Kalimat yang menggunakan huruf kapital secara tepat adalah … .
a. Ayahku bekerja di Kementerian keuangan.
b. Ayahku bekerja di kementerian Keuangan.
c. Ayahku bekerja di Kementerian Keuangan.
d. Ayahku bekerja di kementerian keuangan.

Baca Juga :