Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Kategori: Agama

Agama

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits
Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Status dan kualitas suatu Hadits, apakah dapat diterima atau ditolak, tergantung kepada sanad hadits dan matan Hadits tersebut. Apabila sanad suatu Hadits telah memenuhi syarat-syarat dan kriteria tertentu, demikian juga matannya, maka Hadits tersebut dapat diterima sebagai dalil untuk melakukan sesuatu atau menetapkan hukum atas sesuatu; akan tetapi, apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka Hadits tersebut ditolak dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Kualitas Hadits yang dapat diterima sebagai dalil atau hujjah adalah Shahih dan Hasan, dan keduanya disebut juga sebagai Hadits Maqbul (Hadis yang dapat diterima sebagai dalil atau dasar penetapan suatu hukum).(M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 303; Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-‘llm li al-Malayin, 1973), h. 141).

Syarat Qabul Hadits

Di antara syarat qabul suatu Hadis adalah berhubungan erat dengan sanad Hadis tersebut, yaitu:
(1) Sanad-nya bersambung,
(2) Bersifat adil, dan
(3) Dhabith.
Dan, syarat selanjutnya berhubungan erat dengan matan Hadis, yaitu:
(4) Hadisnya tidak syadz, dan
(5) Tidak terdapat padanya ‘illat.( Mahmud al-Thahhan, Taisir, h. 33; Ibn al-Shalah, ‘Ulum al-Hadits, ed. Nur al-Din “Atr (Madinah. Maktabat al-‘Ilmiyyah, 1972), h. 10. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 305).

Penjelasan

Dari lima kriteria yang disebutkan di atas agar suatu Hadis dapat diterima sebagai dalil atau hujjah, tiga di antaranya adalah berhubungan dengan sanad Hadis tersebut. Suatu Hadis, manakala sanadnya tidak bersambung atau terputus, maka Hadis tersebut tidak dapat diterima sebagai dalil. Keterputusan sanad tersebut dapat terjadi pada awal sanad, baik satu orang perawi atau lebih (disebut Hadis Mu’allaq), atau pada akhir sanad (disebut Hadis Mursal), atau terputusnya sanad satu orang (Munqathi’, atau dua orang atau lebih secara berurutan (Mu’dhal), dan lainnya. Demikian juga halnya apabila sanad Hadis mengalami cacat, baik cacat yang berhubungan dengan keadilan para perawi, seperti pembohong, fasik, pelaku bid’ah, atau tidak diketahui sifatnya, atau cacatnya berhubungan dengan ke-dhabith-annya, seperti sering berbuat kesalahan, buruk hafalannya, lalai, sering ragu, dan menyalahi keterangan orang-orang terpercaya. Keseluruhan cacat tersebut, apabila terdapat pada salah seorang perawi dari suatu sanad Hadis, maka Hadis tersebut juga dinyatakan Dha’if dan ditolak sebagai dalil. Pembicaraan mengenai macam- macam Hadis, baik yang dapat atau tidak dapat dijadikan sebagai dalil, merupakan topik bahasan pada bab selanjutnya.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa sanad suatu Hadis sangat berperan dalam menentukan kualitas Hadis, yaitu dari segi dapatnya diterima sebagai dalil (Maqbul) atau tidak (Mardud).

Karena begitu pentingnya peranan dan kedudukan sanad dalam menentukan kualitas suatu Hadis, maka para Ulama telah melakukan upaya-upaya untuk mengetahui secara jelas dan rinci mengenai keadaan masing-masing sanad Hadis. Upaya dan kegiatan ini berwujud dalam bentuk penelitian Hadis, khususnya penelitian sanad Hadis. Kitab-kitab yang disusun dan memuat tentang keadaan para perawi Hadis, seperti data-data mereka, biografi mereka, dan keadaan serta sifat-sifat mereka, di antaranya adalah:

(a) Karya yang membahas tentang riwayat hidup para Sahabat

Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashhab, oleh Ibn Abd al-Barr al-Andalusi;
Usud al-Ghabat fi Ma’rifat al-Shahabat, oleh 1z al- Din Abi al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn al-Atsir al-Jaziri (w. 630 H);
Al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat, oleh Ibn Hajar al- Asqalani (w. 852 H).

(b) Kitab-kitab Thabaqat

Al-Thabaqat al-Kubra, oleh Abu Abd Allah Muhammad ibn Sa’d al-Waqidi (w. 230 H);
Tadzkirat al-Huffazh, oleh Abu Abd Allah Ahmad ibn Utsman al-Dzahabi (w. 748 H).

(c) Kitab-kitab yang memuat riwayat hidup para perawi Hadis secara umum

Al-Tarikh al-Kabir, oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H);
Al-Jarh wa al-Ta’dil, oleh Ibn Abi Hatim (w. 327 H).

(d) Karya-karya yang memuat tentang para perawi Hadis dari kitab-kitab tertentu

Al-Hidayat wa al-Irsyad fi Ma’rifat ahl al-Tsiqat wa al-Sadad, oleh Abu Nashr Ahmad ibn Muhammad al-Kalabadzi (w. 398 H) (kitab ini memuat secara khusus para perawi Hadis dari kitab Shahih al- Bukhari).

Sedangkan kitab-kitab yang memuat biografi para perawi Hadis yang terdapat di dalam al-Kutub al-Sittah dan lainnya adalah seperti: Al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, oleh Abd al-Ghani al- Maqdisi (w. 600 H),
Tahzib al-Kamal, oleh Al-Mizzi (w. 742 H); Tahdzib al-Tahdzib, oleh Al-Dzahabi (w. 748 H),
Tahdzib al-Tahdzib, oleh Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), dan lain-lain.

Demikian uraian tentang Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits semiga bermanfaat. Aamiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Agama

Cara Sholat Orang Musafir Menjama’ Sholat

Cara Sholat Orang Musafir Menjama’ Sholat

Cara Sholat Orang Musafir Menjama' Sholat
Cara Sholat Orang Musafir Menjama’ Sholat

Sholat Musafir

Sholatnya Musafir,: Orang musafir (orang yang sedang dalam bepergian) dibolehkan mengqashar (mengurangi bilangan rakaat) dari sholat golongan empat rakaat, juga dibolehkan menjama’ (menghimpun) antara shalat Dhuhur dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ baik secara taqdim (mendahulukan : Dhuhur dengan Ashar dikerjakan waktu Dhuhur, Maghrib dengan Isya’ dikerjakan waktu Maghrib) dan boleh secara ta’khir (mengakhirkan : Dhuhur dengan Ashar dikerjakan waktu Ashar, Maghrib dan Isya’ dikerjakan waktu Isya’).

 Pengertian Shalat Jama’

Shalat jama’ artinya mengumpulkan dua shalat wajib dalam satu waktu.11 Misalnya, shalat dzuhur dan ashar pada waktu dzuhur atau ashar.

Dasar Shalat Jama’

Shalat jama’ hukumnya boleh bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan berada dalam keadaan hujan, sakit atau karena ada keperluan lain yang sukar menghindarinya.12 Akan tetapi selain dari perjalanan masih diperselisihkan para ulama.

Shalat wajib yang boleh dijama’ ialah shalat dzuhur dengan shalat ashar dan shalat maghrib dengan shalat isya. Dasarnya hadits Ibnu Abbas:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجمع بين صلاة الظهر والعصر إذا كان على ظهر سير ويجمع بين المغرب والعشاء – رواه البخاري

“Rasulullah SAW biasa menjama’ antara shalat dzuhur dengan ashar, apabila beliau sedang dalam perjalanan dan menjama’ maghrib atau isya”.

Hukum Menjama’ shalat isya dengan shubuh

Menjama’ shalat isya dengan shubuh tidak boleh atau menjama’ shalat ashar dengan maghrib juga tidak boleh, sebab menjama’ shalat yang dibenarkan oleh Nabi SAW hanyalah pada seperti tersebut pada hadits-hadits Ibnu Abbas.

Adanya orang yang menjamin lima shalat wajib sekaligus pada saat yang sama adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Orang yang melakukan hal semacam ini biasanya beranggapan bahwa boleh mengqadha shalat. Padahal shalat wajib yang ditinggalkan oleh seorang muslim, selain karena haid atau nifas atau keadaan bahaya maka orang itu termasuk melakukan dosa besar dan shalat wajib yang ditinggalkannya itu tidak dapat diganti pada waktu yang lain atau diqadha. Sebagaimana dalam sebuah hadits.

لا قضى فى الصلاة ولكن قضى فى الصوم – الحديث

“… tidak ada qadha dalam shalat tapi qadha itu ada pada puasa” (Al Hadits)

Demikian

Baca Juga:

Agama

Sholat Jum’at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum ‘at

Sholat Jum’at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum ‘at

Sholat Jum'at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum 'at
Sholat Jum’at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum ‘at

Hukum Sholat jum’at

Hukum Sholat Jum’at, Hukum sholat jum’at adalah fardhu ‘ain atas setiap pribadi orang islam, mukallaf, lelaki, sehat badanya lagi pula yang mustauthin (yang menetap di kotanya dan tidak dalam bepergian).

  • Syarat-Syarat Sahnya Sholat Jum’at
  • Syarat-syarat agar sholat jum’at itu menjadi sah :
  • Sholat jum’at itu agar diadakan di suatu negeri atau desa.
  • Hendaklah dilakukan secara berjama’ah sebanyak 40 orang.
  • Waktu dimulai hingga sholatnya dikerjakan pada waktu Dhuhur.
  • Supaya didahului dengan khutbah dua kali.
  • Jangan sampai didahului atau bersamaan waktunya dengan sholat jum’at lain di negeri itu.

Syarat-syaratnya kedua khutbah :

  • Khotib supaya suci dari hadats (besar maupun kecil),
  • Baik pakain, badannya dan tempatnya berkhutbah hendaklah suci dari semua najis.
  • Khatib supaya menutupi aurat.
  • Supaya berdiri dalam berkhutbah kalau kuasa.
  • Diselingi duduk antara dua khutbah dengan kadar dapat tuma’ninah.
  • Mengeraskan suaranya hingga dapat didengar oleh sekurang-kurangnya 40 orang yang hadir.
  • Supaya melakukan muwalat antara dua khutbah, dan antara khutbah dengan sholat.

Yang menjadi rukun-rukunnya dua khutbah :

  • Bertahmid ( Mengucapkan Alhamdulillah ).
  • Bersholawat atas Nabi Muhammad saw.
  • Berwasiat dengan taqwa, seperti ucapan Uushikum Waiyyaaya Bitaqwallah ( saya berwasiat kepada saudara-saudara dan kepada diriku sendiri dengan taqwa kepada Allah ) atau : Athie’ullah ( taatlah kamu sekalian kepada Allah ). Wasiat demikian dalam kedua khutbah.
  • Membaca ayat Al-Qur’an dengan sempurna, memahamkan dengan pengertian yang tidak meragukan dalam salah satu dua khutbah.
  • Berdo’a ( berkenaan dengan hal keakhiratan ) juga untuk seluruh kaum mukmin dalam khutbah akhir.

Beberapa uzur meninggalkan sholat jum’at

  • Beberapa uzur meninggalkan sholat jum’at : Sholat jum’at itu gugur dikarenakan orang itu : sakit, lumpuh, buta, juga karena hujan yang lebat.
  • Yang dapat dianggap mendapatkan sholat jum’at : Orang dapat dianggap mendapatkan sholat jum’at manakalah memperoleh satu rakaat beserta imam. Yang mana satu rakaat itu imam mengeraskan bacaan Fatihah dan suratnya, tetapi kalau tidak mendapatkan satu rakaat saja, hendaklah orang itu berniat sholat jum’at dengan menyempurnakan sebagaimana sholat Dhuhur (dengan mengerjakan empat rakaat).

Sunnah-sunnahnya jum’at :

  • Mandi dan membersikan diri.
  • Memotong kuku.
  • Memakai wangi-wangian.
  • Mengenakan pakain serba putih.
  • Tekun mendengarkan khutbah.
  • Berangkat ke masjid lebih awal (selain yang menjadi khutbah).

Demikian

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Agama

Tata Cara Sholat Jenazah Dan Apa Saja Kewajiban Kita Terhadapnya

Tata Cara Sholat Jenazah Dan Apa Saja Kewajiban Kita Terhadapnya

Tata Cara Sholat Jenazah Dan Apa Saja Kewajiban Kita Terhadapnya
Tata Cara Sholat Jenazah Dan Apa Saja Kewajiban Kita Terhadapnya

Sholat jenazah

Yang wajib dilakukan terhadap orang yang meninggal :

Yang wajib dilakukan adalah memandikan, membalut dengan kain kafan, mensholati serta menguburkan, kesemuannya ini termasuk fardhu kifayah.

Memandikan mayat :Memandikan mayat itu dengan tiga kali siraman : Pertama dengan daun bidara, kedua dengan air dan yang ketiga dengan kapur barus. Memandikan mayat itu disunnahkan di tempat yang sunyi, dan memandikannya di tempat yang agak tinggi dari tanah sekitarnya.

Cara memberi kain kafan

Cara memberi kain kafan : Disunnahkan memberi kain kafan pada mayat dengan tiga lapis kain (bagi mayat lelaki), dan bagi mayat perempuan dengan kain panjang, kerudung, gamis serta dua lapis kain.

Mensholati

Yang difardhukan saat sholat jenazah : Niat. 2. Empat kali takbir. 3. Membaca Al-Fatihah. 4. Membaca sholawat atas Nabi Muhammad saw. 5. Berdo’a untuk mayat sesudah takbir ketiga. 6. Berdiri ketika melakukan sholat bagi orang yang tidak berhalangan. 7. Mengucapkan salam.

Menguburkan

Menguburkan mayat : Lubang yang digali untuk menguburkan mayat sekurang-kurangnya

dapat mencegah menjalarnya bau mayat itu serta dapat melindungngi dari gangguan binatang buas. Mayat yang dikubur, wajib menghadapkan wajahnya ke arah kiblat.

Yang disunnatkan berkenaan dengan penguburan

Yang disunnatkan berkenaan dengan penguburan : Mayat itu supaya diletakkan dalam lubang kubur yang dalamnya setinggi orang berdiri dan lebarnya sama dengan orang yang membentangkan tanganya. Pipi mayat itu hendaklah ditempelkan ke tanah setelah kain kafannya dibuka sekedar cukup untuk menempelkan pipinya. Mayat itu supaya dibaringkan di liang lahad yang ditutup dengan batu merah atau kayu, kemudian ditalkinkan selesainya dikubur.

Sholat atas bayi yang gugur

Sholat atas bayi yang gugur, Jika anak bayi yang lahir belum sempurna enam bulan dalam kandungan, maka hendaklah dimandikan, diberi kain kafan dan disholati manakalah waktu dilahirkan bayi tadi dapat menjerit atau sudah nampak tanda-tanda hidup, misalkan : nafasnya naik turun atau matanya dapat berkedip atau menggerak-gerakkan tubuhnya. Apabila tanda-tanda hidup seperti di atas tidak ditemui pada anak bayi tadi, maka wajib dimandikan, dikafani, serta dikubur dan haram untuk disholati, sekalipun telah mencapai masa ditiupkannya ruh dalam badan, yakni 120 hari berada dalam kandungan.

Demikian

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Agama

Sejarah Ilmu Tajwid

Sejarah Ilmu Tajwid

Sejarah Ilmu Tajwid
Sejarah Ilmu Tajwid

Pengertian Tajwid

menurut bahasa (ethimologi) adalah: memperindah sesuatu. Sedangkan menurut istilah, Ilmu Tajwid adalah pengetahuan tentang kaedah serta cara-cara membaca al-Quran dengan sebaik-baiknya.
Tujuan ilmu tajwid adalah memelihara bacaan al-Quran dari kesalahan dan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca. Belajar ilmu tajwid itu hukumnya fardu kifayah, sedangkan membaca al-Quran dengan baik (sesuai dengan ilmu tajwid) itu hukumnya Fardu ‘Ain.
Asal Kata Tajwid yaitu dari kata Bahasa Arab jawwada- yujawwidu- tajwiidan mengikuti wazan taf’iil yang berarti membuat sesuatu menjadi bagus. Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini kerena Rasulullah SAW sendiri diperintah untuk membaca al-Qur’an dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam surat al-Muzammil ayat 4.
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan).”
Kemudian Nabi Muhammad SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa Istilah tajwid muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah yang terdapat dalam surat al-Muzammil ayat 4 tersebut kemudian Beliau menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf yang berarti membaca huruf-hurufnya dengan bagus (sesuai dengan makhraj dan shifat) dan tahu tempat-tempat waqaf.

Ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Qur’an bukanlah suatu ilmu hasil dari Ijtihad (fatwa) para ulama’ yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Qur’an adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asli, yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.

Para sahabat r.a adalah orang-orang yang amanah dalam mewariskan bacaan ini kepada generasi umat Islam selanjutnya. Mereka tidak akan menambah atau mengurangi apa yang telah mereka pelajari itu, karena rasa takut mereka yang tinggi kepada Allah SWT dan begitulah juga generasi setelah mereka.

Masa Rasulullah Saw

Perlu diketahui bahwa pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan Khulafaur Rasyidin belum ada mushaf al-Qur’an seperti yang ada sekarang ini. Pada saat itu al-Qur’an ditulis dalam bahasa Arab yang belum ada tanda bacanya sebagaimana tulisan Arab saat ini. Jangankan harakat fathah (baris atas), kasrah (baris bawah), dhommah (baris depan), dan sukun (tanda wakaf, mati), bentuk serta tanda titik-koma (tanda baca) saja tidak ada. Ilmu tajwid pun belum ada dan bahkan Al-Qur’an juga baru dibukukan sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Walau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling awal ialah ketika bermulanya kesadaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya, baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Karena pada masa itu Khalifah umat Islam memikul tugas untuk berbuat demikian ketika umat Islam mulai melakukan-kesalahan dalam bacaan.

Ini karena semasa Sayyidina Utsman menyiapkan Mushaf al-Qur’an dalam enam atau tujuh buah. Beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW sesuai dengan Lahjah (dialek) bangsa Arab yang bermacam-macam. Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun 1 dan 2 Hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-Qur’an. Maka al-Qur’an Mushaf Utsmaniah telah diusahakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qira’at yang paling awal sepakat, yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya “Al-Qira’at” pada kurun ke-3 Hijriah.

Akan tetapi ada yang mengatakan, apa yang telah disusun oleh Abu ‘Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu Qira’at adalah lebih awal. Pada kurun ke-4 Hijriah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya “Kitabus Sab’ah”, dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qira’at kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah. Kesemuanya pada masa itu karangan ilmu tajwid yang paling awal, barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijriah adalah yang terulung. Sejarah berbicara pemberian tanda baca (syakal) berupa titik dan harakat (baris) baru mulai dilakukan ketika Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Islam atau setelah 40 tahun umat Islam membaca al-Qur’an tanpa ada syakal.
Pemberian titik dan baris pada mushaf al-Qur’an ini dilakukan dalam tiga fase. Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Saat itu, Muawiyah menugaskan Abdul Aswad Ad-Duali untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.

Masa Abdul Malik bin Marwan

Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya. Misalnya, huruf baa’ dengan satu titik di bawah, huruf ta dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan ini, wilayah kekuasaan Islam telah semakin luas hingga sampai ke Eropa. Karena kekhawatiran adanya bacaan al-Qur’an bagi umat Islam yang bukan berbahasa Arab, diperintahkanlah untuk menuliskan al-Qur’an dengan tambahan tanda baca tersebut. Tujuannya agar adanya keseragaman bacaan al-Qur’an baik bagi umat Islam yang keturunan Arab ataupun non-Arab (‘ajami).

Perkembangan zaman masih banyak orang Islam yang masih kesulitan membacanya. Baru kemudian pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca al-Qur’an. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada.

Masa Khalifah Al-Makmun

Kemudian, pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal al-Quran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad. Ilmu tajwid pun lahir karena hasil ijtihad para ulama masa itu. Lalu mereka juga membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain.

Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan al-Quran adalah tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.
Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca al-Quran. Ini semua berkat peran para ulama di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca al-Quran. Dalam Alquran surah Al-Hijr (15) ayat 9, Allah berfirman, ”Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.” Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian al-Qur’an selama-lamanya hingga akhir zaman dari pemalsuan. Karena itu, banyak umat Islam, termasuk di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang hafal al-Qur’an. Dengan adanya umat yang hafal al-Qur’an maka al-Qur’an pun akan senantiasa terjaga hingga akhir zaman.
Selanjutnya, demi memudahkan umat membaca al-Qur’an dengan baik, mushaf al-Qur’an pun dicetak sebanyak-banyaknya setelah melalui tashih (pengesahan dari ulama-ulama yang hafal al-Qur’an). Dan al-Qur’an pertama kali dicetak pada tahun 1530 Masehi atau sekitar abad ke-10 H di Bundukiyah (Vinece). Namun, kekuasaan gereja memerintahkan agar Al-Qur’an yang telah dicetak itu dibasmi. Kemudian, Hankelman mencetak al-Qur’an di Kota Hamburg (Jerman) pada tahun 1694 M atau sekitar abad ke-12 H.[1] Kini, al-Qur’an telah dicetak di berbagai negara di dunia.

Baca Juga: 

Agama

Pengertian Tajwid dan Hukum Mempelajarinya

Pengertian Tajwid dan Hukum Mempelajarinya

Pengertian Tajwid dan Hukum Mempelajarinya
Pengertian Tajwid dan Hukum Mempelajarinya

Pengertian Tajwid

Tajwīd (تجويد) secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata Jawwada (جوّد-يجوّد-تجويدا) dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an maupun bukan.
Sebagian besar ulama mengatakan, bahwa tajwid itu adalah suatu cabang ilmu yang sangat penting untuk dipelajari sebelum mempelajari ilmu qira’at alqur’an. Ilmu tajwid adalah pelajaran untuk memperbaiki bacaan alqur’an. Ilmu tajwid itu diajarkan sesudah pandai membaca huruf Arab dan telah dapat membaca alqur’an sekedarnya.

Bahasan Dalam Ilmu Tajwid

Adapun masalah-masalah yang dikemukakan dalam ilmu ini adalah makharijul huruf (tempat keluar-masuk huruf), shifatul huruf (cara pengucapan huruf), ahkamul huruf (hubungan antar huruf), ahkamul maddi wal qasr (panjang dan pendek ucapan), ahkamul waqaf wal ibtida’ (memulai dan menghentikan bacaan) dan al-Khat al-Utsmani.

Pengertian lain dari ilmu tajwid ialah menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan ayat al-Quran. Para ulama menyatakan bahwa hukum bagi mempelajari tajwid itu adalah fardhu kifayah tetapi mengamalkan tajwid ketika membaca al-Qur’an adalah fardhu ain atau wajib kepada lelaki dan perempuan yang mukallaf atau dewasa.
Untuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qira’at, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid, pendapat sebagaian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama sebagaimana yang dikutip Hasanuddin.

Tajwid Secara Bahasa

Secara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.Sebagian ulama yang lain mendefinisikan tajwid sebagai berikut :
“Tajwid ialah mengucapkan huruf (al-Qur’an) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya sesempurna mungkin tanpa berlebihan ataupun dibuat-buat”. Rasulullah bersabda : “Bacalah olehmu Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat/pertolongan ahli-ahli Al-Qur’an (yang membaca dan mengamalkannya).” (HR. Muslim).

Rasulullah bersabda : “Orang yang paling baik di antara kamu ialah orang yang belajar Al-qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhori). Sebelum mulai mempelajari ilmu tajwid sebaiknya kita mengetahui lebih dahulu bahwa setiap ilmu ada sepuluh asas yg menjadi dasar pemikiran kita.

Asas Ilmu Tajwid

Berikutnya dikemukakan 10 asas Ilmu Tajwid :
1. Pengertian tajwid menurut bahasa : Memperelokkan sesuatu.Menurut istilah ilmu tajwid : Melafazkan setiap huruf dari makhrajnya yang betul serta memenuhi hak-hak setiap huruf.
2. Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah Fardhu Kifayah danmengamalkannya yakni membaca Al-Quran dengan bertajwid adalah Fardhu Ain bagi setiap muslimin dan muslimat yang mukallaf.
3. Tumpuan perbincangannya: Pada kalimah-kalimah Al-Qur’an.
4. Kelebihannya : Ia adalah semulia mulia ilmu karena ia langsung berkaitan dengan kitab Allah (Al-Qur’an).
5. Penyusunnya : Imam-Imam Qira’at.
6. Faedahnya : Mencapai kejayaan dan kebahagiaan serta mendapat rahmat dan keridhaan Allah di dunia dan akhirat, Insya-Allah.
7. Dalilnya : Dari Kitab Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW
8. Nama Ilmu : Ilmu Tajwid.
9. Masalah yang diperbaincangkan : Mengenai kaedah-kaedah dan cara-cara bacaannya secara keseluruhan yang memberi pengertian hukum-hukum cabangan.
10. Matlamatnya : Memelihara lidah daripada kesalahan membaca ayat-ayat suci Al-Quran ketika membacanya, membaca sejajar dengan penurunannya yang sebenarnya dari Allah SWT.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Agama

Faedah Iman Kepada Qadha dan Qadar

Faedah Iman Kepada Qadha dan Qadar

Faedah Iman Kepada Qadha dan Qadar
Faedah Iman Kepada Qadha dan Qadar

Faedah Beriman Kepada Qadha dan Qadhar

Kita beriman kepada qadha dan qadar, menghasilkan faedah yang besar dalam kehidupan kita para mukmin. Allah menciptakan manusia menyukai hidup, menggemari kenikmatannya, selalu berusaha menghasilkan kemanfaatan bagi dirinya, tidak menyukai sakit, sangat berkeluh kesah apabila bencana menimpanya.

Manfaat Bagi Diri Sendiri

Hal-hal di atas merupakan salah satu kekurangan manusia dan mendorongnya membuat kejahatan. Karenanya tidaklah layak bagi orang yang mengobati jiwa manusia, mengabaikan urusan pengobatan dan memperburuk keadaan. Jika tidak, suburlah pada manusia tabiat cinta diri dan mengutamakan diri sendiri dan putuslah hubungannya dengan orang-orang yang ada disekitarnya, apabila dia memperoleh kebajikan, dan timbullah keluh kesahnya dan lemahlah cita-citanya apabila ditimpa bencana.

Jangan Sombong

Orang yang berpendapat bahwa dia berkuasa atas dirinya sendiri, segala kebajikan yang diperolehnya hanyalah karena kepandaian dan kecakapannya, tentulah dia terperdaya, tentulah dia congkak dan angkuh, lalu karenanya putuslah hubungannya dengan masyarakat, tidak lagi bersyukur kepada Tuhannya. Orang yang ditimpa bencana dengan anggapan bahwa hal itu dideritanya, lantara semata-mata kesalahannya, kekeliruannya, mengkin akan terlalu menyesali dirinya, atau menjadi dendam kepada orang-orang di sekitarnya. Dia tidak menemukan sesuatu yang dapat menghibur hatinya, lalu lemahlah azimahnya. Dan kadang-kadang dia beranggapan apabila bencana itu terus menerus menimpanya, bahwa dia tidak mampu menolak bencana, lalu timbullah putus asa, maka dia pun menjadi nekad membunuh diri.

Maka jalan yang paling baik untuk memelihara manusia dari sikap pongah, congkak dan sombong, apabila dia memperoleh kebajikan, dan menghibur hatinya, apabila dia tertimpa kesusahan, ialah iman, bahwa segala apa yang telah terjadi adalah karena demikianlah takdir azali.

Mukmin Harus Percaya

Mukmin yang percaya kepada qadha Allah dan qadar-Nya sangat jauh dari tabiat dengki yang mendorongnya kepada kejahatan, karena dia beranggapan bahwa mendengki manusia terhadap nikmat-nikmat yang diperolehnya, berarti dengaki kepada nikmat Allah; dan dia menyukai bagi orang lain, apa yang dia sukai bagi dirinya sendiri. Dia berusaha mencapai kebahagiaan melalui jalan yang telah digariskan agama. Dia beramal dengan jiwa yang tenang dan berani, serta berpegang kepada Allah sendiri dengan tetap memohon taufiq dan inayah, dia memuji Allah dan mensyukuri-Nya terhadap pemberian Allah kepadanya. Dan jika dia gagal, tidaklah dia berkeluh kesah, tidaklah lemah azimahnya dan tidaklah menyerah kalah kepada kegundahan serta tidak menaruh dendam kepada seseorang pun.

Mukmin yang beriman kepada qadha dan qadar-Nya, bersifat berani, tidak penakut; karena dia beritikad bahwa tidak terjadi kesukaran atau kemudahan, kekayaan atau kepapaan, hidup dan mati, melainkan dengan ketentuan Allah. Orang itu bekerja dengan sebaik-baiknya. Dia tidak takut melainkan kepada Allah. Dan dia tidak mengharap, melainkan rahmat dan keridhaan Allah SWT.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Agama

Dalil Shalat Tarawih

Dalil Shalat Tarawih

Dalil Shalat Tarawih
Dalil Shalat Tarawih

Dalil-dalil Para Imam Mujtahid

Hujjah daripada Imam-Imam Madzhab yang empat sehingga memfatwakan bahwa rakaat shalat tarawih
itu 20 adalah sebagai berikut :

a. Hadis riwayat Baihaqi dan selainnya dengan isnad yang shorih lagi sahih dari Sa’ib bin Yazid

seorang sahabat Nabi yang terkenal dimana beliau berkata :
كَانُوْا یَقُوْمُوْنَ عَلَى عَھْدِ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْھُ فىِ شَھْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِیْنَ رَكْعَةً
“Para sahabat melakukan shalat tarawih dimasa Umar bin Khattab ra. pada bulan ramadhan dengan dua
puluh rakaat”.

b. Hadits riwayat Imam Malik dalam Al-Muwattho’ dan juga riwayat Imam Baihaqi dari Yazid bin Ruman

beliau berkata :
كَانَ النَّاسُ یَقُوْمُوْنَ فِى زَمَنِ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْھُ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِیْنَ رَكْعَةً
“Para sahabat melakukan ibadah malam dizamannya Umar bin Khatab ra. dengan dua puluh tiga rakaat”.
Yakni 20 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir.

sholat tarawih

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ اُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه اَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya :
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban- kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Baca Juga: 

Agama

Sebab Dinamai Shalat Tarawih dan Jumlah Rakaatnya

Sebab Dinamai Shalat Tarawih dan Jumlah Rakaatnya

 

Sebab Dinamai Shalat Tarawih dan Jumlah Rakaatnya
Sebab Dinamai Shalat Tarawih dan Jumlah Rakaatnya

Sebab Dinamakan Shalat Tarawih

Shalat malam yang dilaksanakan pada bulan ramadhan itu dinamai dengan shalat tarawih karena shalat
tersebut lama, terdiri dari beberapa raka’at dan setiap selesai melakukan empat raka’at si pelakunya istirahat
dahulu kemudian melanjutkan shalatnya kembali. Itulah sebabnya dia disebut dengan shalat tarawih.

Penjelasan

Ibnu Mandzur dalam lisanul Arab berkata : “tarawih adalah jama’ dari tarwiihah, berasal dari kata
roohah. Sama dengan tasliimah yang berasal dari kata salam. Shalat di bulan ramadhan itu disebut tarawih
karena orang-orang pada istirahat dulu setelah selesai mengerjakan empat rakaat. Ibnu Mandzur selanjutnya
berkata : “Roohah yang berarti istirahat adalah lawan kata dari ta’ab yang berarti letih atau capek. Dalam
sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda kepada Bilal : “Istirahatkanlah kami wahai Bilal!”.
Artinya kumandangkanlah adzan shalat, maka aku akan dapat istirahat dengan jalan menunaikannya”. Disini
Nabi Saw. menyatakan bahwa dirinya baru dapat merasa istirahat apabila beliau menunaikan shalat karena
di dalam shalat terdapat munajat (komunikasi rahasia) dengan Allah Swt. Karena itulah dalam sebuah hadits
Nabi kita Saw. bersabda : “Ketenangan hatiku dijadikan pada waktu shalat”.

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Shalat tarawih termasuk shalat sunah mu’akkad (yang dikuatkan) sebagaimana telah ditunjukkan oleh
beberapa hadits yang mulia dan jumlah rakaatnya adalah 20 dengan tanpa witir. Apabila dengan witir, maka
jadilah dia 23 rakaat. Demikian sunnat yang berlaku dan telah disepakati oleh umat islam baik salaf maupun
khalaf sejak zamannya Khalifah Umar bin Khattab ra. hingga zamannya kita sekarang ini.

Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara ahli fiqih imam madzhab yang empat kecuali Imam Malik dalam
riwayat beliau yang kedua dimana beliau berpendapat bahwa shalat tarawih itu adalah 20 rakaat lebih
hingga 36 rakaat sesuai dengan amalan penduduk Madinah. Nafi’ pernah meriwayatkan bahwa Imam Malik
berkata : “Aku mendapatkan orang-orang melakukan shalat tarawih dengan 39 rakaat. Sudah termasuk
diantaranya 3 rakaat shalat witir”. Namun demikian riwayat yang masyhur dari beliau adalah bahwa shalat
tarawih itu 20 rakaat.

Para Ulama

Dan riwayat dari beliau inilah yang disepakati oleh mayoritas umat baik dari
Safi’iyah, Hambaliyah maupun Hanafiyah. Dengan demikian, maka sepakatlah madzhab-madzhab yang
empat bahwa rakaat shalat tarawih itu adalah 20 dan ditambah tiga rakaat witir.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/

Agama

bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah
bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

 

Shalat Tarawih

Sholat Tarawih sapa yang gak tau sholat tarawih ya sholat tarawih adalah sholat yang kita lakukan pada saat bulan suci ramadhadan sholat ini memiliki hukum sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rosulullah SAW.

Nah pada kesempatan ini saya akan menceritakan sejarah sholat tarawih dan akan memberikan doa-doa shoalat tarawih

Shalat tarawih adalah shalat Sunnah yang dilaksanakan oleh kaum muslimin pada malam-malam
bulan Ramadhan setelah shalat isya’ dan sebelum shalat witir. Shalat tarawih disunahkan bagi kaum
muslimin, pria dan wanita. Rasulullah Saw, sendiri juga menunaikannya yang ketika itu belum dikenal
dengan nama “Shalat tarawih” dan menganjurkan umatnya supaya menunaikan juga. Demikian pula yang
dilakukan oleh para sahabat Nabi dan umat islam generasi-generasi berikutnya.

Kumpulan Hadits

Dalam hal ini sahabat Abu Hurairah ra. berkata :

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَیْھِ وَسَلَّمَ یُرَغِّبُ فِى قِیَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَیْرِ أَنْ یَأْمُرَھُمْ فِیْھِ بِعَزِیْمَةٍ
فَیَقُوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضاَنَ إِیْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَھُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِھِ

“Rasulullah Saw, menggemarkan ibadah di bulan ramadhan, akan tetapi beliau tidak menganjurkannya
dengan keras. Beliau berkata : “Barangsiapa banyak beribadah di bulan ramadhan dengan iman dan
ikhlas, maka di ampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu”. (HR. : Muslim)
Maksud hadits ini adalah “Siapa yang menghidupkan malam-malam ramadhan dengan shalat zikir
dan membaca Al-Qur’an berdasarkan iman dan ikhlas, maka di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu yakni
dosa-dosa kecil”.

Ibnu Qudomah

Ibnu Qudomah dalam kitabnya Al-Mugni mengatakan bahwa : “Shalat tarawih itu hukumnya sunah
mu’akkadah dan orang pertama yang melaksanakannya adalah Rasulullah Saw,”. Berkaitan dengan ini
terdapat sebuah hadits dimana Siti Aisyah ra. berkata :

صَلَّى النَّبِيُّ فِى الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَیْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلاَتِھِ ناَسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ إجْتَمَعُوْا
مِنَ اللَّیْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ یَخْرُجْ إِلَیْھِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَیْھِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ : قَدْ
رَأَیْتُ الَّذِيْ صَنَعْتُمْ فَلَمْ یَمْنَعْنِيْ مِنَ الْخُرُوْجِ إِلاَّ أَنِّيْ خَشِیْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَیْكُمْ

“Pada suatu malam Nabi shalat di masjid, maka para sahabat pun mengikuti beliau shalat. Kemudian
beliau shalat di malam berikutnya, maka para sahabat (yang akan ikut shalat) menjadi semakin banyak.
Selanjutnya pada malam ketiga atau keempat para sahabat berkumpul (di masjid untuk shalat bersama
beliau) namun ternyata Rasulullah Saw, tidak keluar menemui mereka. Keesokan harinya beliau pun
bersabda : “Saya telah mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku
keluar menemui kalian selain dari kekhawatiranku kalau-kalau shalat itu diwajibkan atasmu”. (HR.
Muslim)

Penjelasan Shalat Tarawih

Shalat tarawih itu seringkali dihubung-hubungkan dengan Umar bin Khattab ra. hal ini dikarenakan
adanya gagasan dari beliau untuk megumpulkan orang-orang agar melaksanakan Shalat tarawih dengan satu
imam dan imam yang ditunjuk oleh beliau pada ketika itu adalah sahabat Ubay bin Ka’ab. Dalam hal ini
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abdur Rahman bin Abdul Qori dimana beliau berkata :
“Pada suatu malam di bulan ramadhan aku keluar bersama Umar bin Khattab, maka kami melihat orangorang
terbagi dalam beberapa kelompok. Yakni mereka melakukan shalat dalam kelompok-kelompok yang
terpisah. Ada yang shalat sendirian dan ada juga yang shalat bersama sejumlah orang. Menyaksikan
pandangan itu sahabat Umar bin Khattab berkata : “Saya berpendapat bahwa sekiranya orang-orang ini saya
kumpulkan dibelakang seorang qori’ (imam yang bagus bacaannya), mak itulah yang lebih utama”.
Kemudian beliau mematangkan rencananya itu dan selanjutnya mengumpulkan orang-orang (untuk shalat
berjamaah) dibelakang Ubay bin Ka’ab”. Perawi hadits ini berkata : Kemudian pada malam berikutnya saya
keluar lagi bersama Umar bin Khattab dan orang-orang pada waktu itu terlihat shalat berjama’ah dibelakang
seorang qori’. Maka berkatalah Umar : “Inilah sebaik-baik bid’ah!” (HR. Bukhari)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/