Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Kategori: Agama

Agama

Kisah Tsa’labah Dalam Al-Qur’an

Kisah Tsa’labah Dalam Al-Qur’an

Kisah Tsa'labah Dalam Al-Qur'an
Kisah Tsa’labah Dalam Al-Qur’an

Diriwayatkan dari Abi Umamah Al Bahily radhiyallaahu ‘anhu

bahwa alasannya ialah turunnya ayat tersebut ialah Tsa’ labah bin Hatib Al Anshaary selalu tinggal di mesjid Rasulillahi baik malam maupun siang. Dan hingga dahinya menebal ibarat lutut onta lantaran terlalu banyak sujud. Pada suatu hari dia keluar dari mesjid tanpa tetap sibuk dengan do’a dan shalat ibarat biasanya.
Maka Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu bersabda kepadanya : “Mengapa engkau berbuat ibarat perbuatan orang orang munafiq, tergesa gesa keluar?”.

Kata Tsa’ labah

“Wahai Rasulullah, saya tergesa gesa keluar lantaran saya spesialuntuk punya satu kain ini untuk saya dan untuk istri aku, dan kain ini saya pakai untuk shalat sedang dia telanjang dirumah, kemudian saya kembali kepadanya dan melepas kain ini dan dia memakainya dan dia shalat. Oleh lantaran itu, berdo’ alah, semoga Dia Allah memdiberi rizqi harta kepada aku”.
Sabda Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu : “Hai Tsa’ labah, sedikit yang engkau mau mensyukuri itu lebih baik dari pada banyak sedang engkau tidak berpengaruh (menerimanya)”.

Kemudian Tsa’ labah hadir kedua kalinya dan berkata : “Wahai Rasulullah, berdo’ alah kepada Allah semoga supaya Dia Allah memdiberi rizqi harta kepada saya !”.

Kata nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu : “Tidaklah ada padamu pola yang cantik pada pribada Rasulullah ?, demi Allah yang jiwa saya ditanganNya, jikalau sekiranya saya menghendaki pegunungan pegunungan menjadi emas dan perak berjalan bersama aku, (menjadi milik aku) pasti mereka menjadi emas dan perak berjalan bersama saya (dan/menjadi milik aku).

Tsa’ labahpun hadir kepada Nabi lagi serta berkata : “wahai Rasulullah, berdo’ alah engkau kepada Allah semoga supaya Dia memdiberi rizqi harta kepadaku; dan demi Allah Yang sudah mengutus engkau menjadi nabi, jikalau saya didiberi rizqi oleh Allah ta’ aala berupa harta, pasti akan saya diberikan kepada siapa yang memiliki hak (zakatnya)”.

Maka Tsa ‘labah mengambil/memelihara sebuntut kambing; dan kambing itu berkembang biak laksana berkembang biaknya ulat sehingga memenuhi kota Madinah. Dan Tsa ‘labah minggir dari kota Madinah dan turun /pergi kejurang, dan kambingpun terus berkembang laksana ulat, tiruanla dia selalu shalat Zduhur maupun Ashar dan kemudian dia shalat dalam tiruana waktu dilingkungan kambing kambingnya. Kambingnya terus menjadi banyak dan berkembang biak sehingga dia terpaksa lebih jauh dari kota Madinah bersama sama kambing kambingnya dan dia spesialuntuk sempat menyaksikan/mengunjungi shalat jum’at. Dan kambingpun terus menjadi banyak dan berkembang biak sehingga dia menjadi lebih jauh lagi dan tidak sempat lagi menyaksikan jum’at maupun jama’ah. Apabila hari jum’at dia keluar dan berjumpa dengan orang orang dia spesialuntuk bertanya tanya wacana diberita saja.

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ta’aalaa ‘alaihi wassalama teringat kepadanya kemudian bertanya kepada para teman dekat: “Apakah yang dipperlakukan oleh Tsa ‘labah”. Mereka menjawaban : “Rasulullah, dia sudah berternak kambing sehingga jurangpun tidak memadai”. Sabda Rasulullah : “Celaka Tsa’ labah”.
Maka turun ayat shadaqah/zakat.

Rasulullah mengutus dua orang pria untuk mengambil hadaqah dan di jumpai oleh orang orang dengan shadaqah mereka, sehingga sampailah keduanya kepada Tsa’ labah, maka keduanya meminta kepadanya dan membacakan surat Rasulullah yang didalamnya menandakan hal yang fardhu. Dia tidak memdiberi bahkan berkata : “ini ialah spesialuntuk pajag atau semits’ al”.
Katanya pula : “Pulanglah kalian dan saya akan angan angan dan berfikir lampau !”.

Ketika keduanya kembali dan menghadap Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu, ia Nabi bersabda sebelum mereka berkata apa apa : “Celaka Tsa’ labah kedua kalinya”. Kemudian Allah menurunkan ayat taubat tersebut, sedang disisi nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu ada seorang laki laki dari sanak kerabat Tsa’ labah dan mendengarkan kata kata Rasulullah itu. Maka dia keluar dan hadir kepada Tsa’ labah serta berkata : “celaka engkau hai Tsa’ labah, sungguh Allah sudah menurunkan ayat sehubungan dengan engkau demikian”.

Maka Tsa’labah keluar menghadap Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu dengan membawa shadaqah . Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu bersabda : “Sungguh Allah sudah melarang saya mendapatkan shadaqah dari engkau”.
Maka dia menaburkan pasir di kepalanya. Dan Rasulullah bersabda : “Ini ialah perbuatanmu sendiri yang sungguh engkau sudah saya perintah tapi engkau tidak melaksanakan”, dan Rasulullah tetap enggang (tidak menerima).
Tsa’ labah terus pergi kepada Abu Bakar ridhiyallahu anhu dengan membawa shadaqah dan berkata : “Terimalah shadaqah saya ini !”.

Abu Bakar ridhiyallahu ‘anhu enggang mendapatkan dan berkata : “Rasulullah shallallahu ta’ aalaa ‘alaihi wa sallama saja tidak mau mendapatkan apakah saya akan menerimanya?”. Dia Abu Bakar tidak mau menerimanya. Kemudian Tsa’ labah hadir kepada Umar radhiyallaahu ‘anhu di pemerintahannya dan berkata : ” Terimalah shadaqah saya ini !”
Kata Umar : “Keduanya (Rasulullah dan Abu Bakar) tidak mau menerimanya, apakah saya akan menerimanya?”. Dia Umar tetap tidak mau menerimanya.

Tsa’ labah terus menhadiri Utsman radhiyallahu ta’aalaa ‘anhu dengan membawa shadaqahnya dan berkata : “Terimalah shadaqah saya ini !”.

Baca Juga: Sifat Allah

Meninggalnya Tsa’ labah

Kata Utsman : “Mereka (Rasulullah, Abu Bakar dan Umar) tidak mau menerimanya, apakah saya akan mendapatkan ?” Utsman tetap tidak mau menerima. Demikianlah sehingga Tsa’ labah meninggal dunia pada masa khilafah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Semua siksa akibat ini ialah dari alasannya ialah sifat kikirnya, dan cintanya kepada harta kekayaan serta tidak mau mempersembahkan zakat. Dan lantaran bahwasanya menjalani akad itu sanggup menjadikan seseorang menjadi munafiq bahkan menjalani janjipun sudah ialah sepertiga dari pada perbuatan munafiq.
Ini sebagai isarat bahwa bahwasanya tanda orang-orang munafiq ada tiga : 1). Apabila dia berbicara berdusta, 2). Apabila dia berjanji menjalani dan 3). Apabila dia percaya berkhiyanat.

Agama

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Keutamaan Membaca Al-Qur'an
Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Keutamaan Al-Qur’an

Adapun keutamaan dan kelebihan membaca Al-Qur’an, Rasulullah saw menyatakan dalam sebuah haditnya yang diriwayatkah oleh Bukhari dan Muslim, yang maksudnya demikian ” Ada dua golongan insan yang sungguh sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang didiberi oleh Allah kitab suci Al-Qur’an ini, dibacanya siang dan malam, dan orang yang dianugerahi oleh Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaannya itu digunakannya untuk segala sesuatu yag diridhai oleh Allah”.

Didalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pula, Rasulullah menyatakan tentang kelebihan, martabat dan keutamaan orang yang membaca Al-Qur’an, demikian maksudnya : “Perumpamaan orang mukmin yang menbaca Al-Qur’an, yakni mirip bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat. Orang mukmin yang tak suka membaca Al-Qur’an, mirip buah kurma baunya tidak begitu harum tetapi manis rasanya, orang munafik yang membaca Al-Qur’an, menyerupai sekuntum bunga berbau harum, tetapi pahit rasanya. Dan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an tak ubahnya mirip buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali”.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga mengambarkan bagaimana besarnya rahmat Allah bagi orang-orang yang membaca Al-qur’an di rumah-rumah ibadah (masjid, mushallah, surau dan lainnya). hal ini dikatakan dalam sebuah haditsnya : “Kepada kaum yang suka berjamaah dirumah-rumah ibadah, membaca Al-Qur’an secara bergilirian dan latih mengajarkan terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingat mereka” (H.R.Muslim dari Abi Huraerah)

Hadits lain juga Rasullullah menyampaikan : “Hendaklah engkau diberi nur rumah tanggamu dengan sembahyang dan dengan membaca Al-Qur’an”.
Dilain hadits Rasulullah juga menyampaikan tentang memdiberi cahaya rumah tangga dengan membaca Al-Qur’an. sepertiyang hadits yang diriwayatkan oleh Darul Quthni dari Anas r.a. Rasulullah memerintahkan : “Perbanyaklah membaca Al-Qur’an di rumahmu, sebetulnya di dalam rumah yang tak ada membaca Al-Qur’an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di dalam rumah itu, dan akan aneka macam kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah”.

Pahala Membaca Al-Qur’an

Mengenai pahala membaca Al-qur’an, Ali bin Abi Thalib menyampaikan bahwa tiap-tiap orang yag membaca Al-Qur’an dalam sholat, akan menerima pahala 50 kebajikan untuk tiap-tiap abjad yang diucapkannya, membaca Al-Qur’an diluar sembahyang dengan berwudhu, maka pahalanya 25 kali kebajikan bagi tiap-tiap abjad yang di ucapkannya. .Dan membaca Al-Qur’an di luar sholat dengan tidak berwudhu maka pahalanya 10 kebajikan dari tiap-tiap abjad yang diucapkannya.

Baca Juga: Ayat Kursi

Mendengarkan Bacaan Al-Qur’an

Didalam aliran Islam, bukan membaca Al-Qur’an saja yang menjadi ibadah dan amal yang menerima pahala dan rahmat, tetapi mendengargkan bacaan Al-Qur’an pun begitu. Sebagian ulama mengatakan, bahwa mendengarkan orang yang membaca Al-Qur’an pahalanya sama dengan orrang yang membacanya. Tentang pahala orang yang mendengarkan orang membaca Al-Qur’an dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surah Al-A’raaf ayat 204 :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan hening biar engkau menerima rahmat”.
Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik sanggup menghibur perasaan sedih, menenangkan jiwa yang gelisah dan melunakkan hati yang keras, serta menhadirkan petunjuk. Itulah yang dimaksudkan dengan rahmat Allah yang didiberikan kepada orang yang mendengarkan Al-Qur’an dengan baik. Dilain ayat Allah berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 2 :

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang diberiman itu, spesialuntuklah mereka yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah akidah mereka balasannya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”
Diriwayatkan bahwa, pada suatu malam Nabi Muhammad saw mendengarkan Abu Musa Al-Asy’ari membaca Al-Qur’an hingga jauh malam. Sepulang dia dirumah, dia ditanya oleh istri dia Sitti Aisyah :”Apa sebabnya pulang hingga sejauh malam?, maka Rasulullah menjawaban, bahwa dia terpikat dengan kemerduan bunyi Abu Musa Al-Asy’ari membaca Al-Qur’an mirip mendunya bunyi nabi Daud A.S

Di dalam riwayat, aneka macam diceritakan, betapa efek bacaan Al-Qur’an pada masa rasulullah terhadap orang-orang kafir yang setelah mendengarkan bacaan Al-Qur’an, tidak sedikit hati yang pada mulanya keras dan murka kepada Nabi Rasulullah serta pengikut-pengikutnya, berbalik menjadi lunak dan mau mengikuti aliran Islam.

Agama

Produk Rahn dalam Perbankan

Produk Rahn dalam Perbankan

Produk Rahn dalam Perbankan
Produk Rahn dalam Perbankan

Aplikasi dalam Perbankan

Kontrak rahn dipakai dalam perbankan dalam dua hal, yaitu:

1. Sebagai Produk Pelengkap

Rahn dipakai dalam produk pelengkap, artinya sebagai akad tambahan (jaminan/collateral) terhadap produk lain seperti dalam pembiayaan bai’al murabahah. Bank dapat menahan nasabah sebagai konsekuensi akad tersebut.

2. Sebagai Produk TersendiriDi beberapa negara Islam termasuk di antaranya adalah Malaysia, akad rahn telah dipakai sebagai alternatif dari pegadaian konvensional. Bedanya dengan pegadaian biasa, dalam rahn nasabah tidak dikenakan bunga, yang dipungut dari nasabah adalah biaya penitipan, pemeliharaan, penjagaan, serta penaksiran. Perbedaan utama antara biaya rahn dan bunga pegadaian adalah dari sifat bunga yang bisa berakumulasi dan berlipat ganda, sementara biaya rahn hanya sekali dan di tetapkan di muka.

Manfaat Rahn

Manfaat yang dapat di ambil oleh bank dari prinsip ar-rahn adalah:
1. Menjaga kemungkinan nasabah untuk lalai atau bermain-main dengan fasilitas pembiayaan yang diberikan.
2. Memberikan keamanan bagi segenap penabung dan pemegang deposito bahwa dananya tidak akan hilang begitu saja. Jika nasabah peminjam ingkar janji, ada suatu asset atau barang (marhun) yang dipegang oleh bank.
3. Jika rahn diterapkan dalam mekanisme pegadaian, maka akan sangat membantu saudara kita yang kesulitan dana terutama didaerah-daerah.

Risiko Rahn

Adapun resiko yang mungkin terdapat pada rahn apabila diterapkan sebagai produk adalah:
1. Resiko tak terbayarnya hutang nasabah (wanprestasi)
2. Resiko penurunan nilai aset yang ditahan atau rusak.

Perbedaan dan Persamaan Gadai Syariah dan Gadai Konvensional

a. Persamaan Gadai Konvensional dengan Gadai Syariah

Persamaan gadai konvensional dengan gadai syariah adalah seperti berikut:
1. Hak gadai berlaku atas pinjaman uang
2. Adanya agunan (barang jaminan) sebagai jaminan utang
3. Apabila batas waktu pinjaman uang telah habis , barang yang di gadaikan boleh di jual atau di lelang
b. Perbedaan gadai syariah dengan gadai konvensional
Perbedaan gadai syariah dengan gadai konvensional adalah sebagai berikut:

INDIKATOR

Rahn ( Gadai Syariah )
Gadai Konvensional
Konsep Dasar
Tolong menolong ( jasa pemeliharaan barang jaminan)
Profit Oriented ( Bunga dari pinjaman pokok/ biaya sewa modal)
Jenis Barang Jaminan
Barang bergerak dan tidak bergerak
Hanya barang bergerak
Beban
Biaya pembiayaan
Bunga (dari pokok pinjaman)
Lembaga
Hanya bisa dilakukan oleh lembaga (perum penggadaian)
Bisa dilakukan perseorangan
Perlakuan
Dijual (kelebihan dikembalikan kepada yang memiliki)
Dilelang

Baca Juga: 

Agama

Konsep-Konsep yang Berhubungan dengan Pemerintahan Islam 

Konsep-Konsep yang Berhubungan dengan Pemerintahan Islam

Konsep-Konsep yang Berhubungan dengan Pemerintahan Islam 
Konsep-Konsep yang Berhubungan dengan Pemerintahan Islam

KHILAFAH

Secara umum seseorang yang menggantikan orang lain sebagai penggantinya, menurut istilah khilafah adalah sebutan untuk masa pemerintahan khalifah dan sebutan seperti khilafah Abu bakar, Umar bin Khattab dan seterusnya untuk melaksanakan wewenang yang di amanahkan.

KHALIFAH

Secara istilah pemimpin yang mengganti nabi dalam tanggung jawab umum terhadap pengikut agama ini untuk membuat manusia tetap mengikuti undang-undang yang mempersamakan seluruh umat islam di depan kebenaran sebagai khalifah Rasul dalam memelihara agama dan mengatur dunia. Jadi, khalifah tidak bisa diartikan wakil melainkan pengganti / penguasa.

IMAMAH

Secara umum keimanan,kepemimpinan, dan pemerintahan. Menurut istilah seseorang atau kelompok orang yang melaksanakn wewenag dalam hal mengurus kepentingan masyarakat atau istilah lain kepemimpinan menyeliruh yang berkaitan dengan urusan keagamaan dan urusan dunia sebagai pengganti fungsi Rasulullah.
Pendefinisian khilafah dan imamah lebih panjang oleh kepemimpinan Khulafaur Rosyidin. Hukum islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik Negara. Negara didasarkan pada prinsijp yang mengakui “kedaulatan tuhan”. Dan Nabi Muhammad SAW sebagai “wakil tuhan”. Dan menerapkan musyawarah sertra kedaulatan yang sesungguhnya berda pada Tuhan.

Baca Juga: Rukun Iman

IMAM

Sebutan gelar yang paralel dengan khalifah dalam sejarah pemerintahan islam, adalah imam. Kata imam berarti ”pemimpin, atau contoh yang harus diikuti atau mendahului, memimpin. Kedudukan imam sama dengan khalifah, yaitu pengganti rasul sebagai pemelihara agama dan penanggung jawab urusan umat. Secara istilah imam adalah ” seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agam dan urusan dunia sekaligus.

IMARAH

Imarah berasal dari kata “amr” yang artinya perintah persoalan, urusan atau dapat pula dipahami sebagai kekuasaan. Sementara itu imarat sebutan untuk jabatan amir dalam suatu Negara kecil yang berdaulat untuk melaksanakan pemerintahan oleh seorang amir. Istilah khilafah dan imamah lebih populer pemakaiannya dalam berbagai literatur ulama fiqh daripada istilah imarah.

AMIR

Menurut istilah syara, amir adalah pejabat pemerintahan yang diangkat untuk mengatur dan memelihara salah satu urusan kaum muslimin. Ketika Rasulullah SAW masih berada di tengah umat islam’ istilah amir di gunakan untuk nama beberapa jabatan yang mengurusi suatu urusan.

Umar bin khattab pernah berkata: “ Tidak ada arti islam tanpa jamah, tidak ada arti jamaah tanpa amir (pemimpin).
Dalam arti lain amir adalah orang yang memerintah orang yang menangani persoalan, orang yang mengurus atau penguasa.
Konsep amir justru dapat di pahami lebih umum dalam seluruh pola kepemimpinan. Termasuk penguasa politik pemerintahan, pemimmpin organisasi dan perkumpulan dan sebagainya. Dalam proses pemilihannya pun, lebih banyak melibatkan unsur sosial kemasyarakatan, ketimbang doktrin. Dengan kata lain, legalisasi seorang amir ditentukan oleh kepercayaan orang banyak terhadap seseorang.

Ahlul Halli Wal Aqdi

Dapat diartikan bahwa orang-orang yang mempunyai wewenang untuk melonggarkan dan mengikat atau sekelompok orang yang memilih imam atau kepala Negara atau orang-orang yang mempunyai wewenang.Biasanya istilah ini dirumuskan oleh ulama fiqih untuk sebutan bagi orang-orang yang berhak sebagai wakil umat untuk menyuarakan hati nurani mereka.
Paradigma pemikiran ulama fiqih merumuskan istilah Ahlul Halli Wal aqdi didasarkan pada system pemilihan empat khalifah pertama yang dilaksanakan oleh para tokoh sahabat yanag mewakili dua golongan yaitu Anshor dan Muhajirin.
Bertolak dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa Ahlul Halli wal Aqdi merupakan suatu lembaga pilihan. Kecenderungan umat islam generasi pertama dalam sejarah secara tidak langsung atau melalui perwakilan.
Dengan demikian Ahlul Halli wal Aqdi terdiri dari berbagai kelompok sasial yang memiliki profesi dan keahlian yang berbeda namun hal ini bukan hal prinsip, melainkan persoalan tekhnis dan temporer yang dapat berubah sesuai dengan tuntutan situasi dan kebutuhan masyarakat.

BAI’AT

Istilah bai’at berasal dari kata ba’a yamg berarti “menjual”. Bai’at mengandung makna perjanjian, janji setia atau saling berjanji dan setia. Dalam pelaksanaan bai’at selalu melibatkan dua pihak secara suka rela. Secar bahasa ialah berjabat tangan atas terjadinya jual beli dan untuk berjanji setia dan taat
Maka bai’at secara istilah adalah ungkapan perjanjian antara dua pihak yang seakan-akan salah satu pihak menjual apa yang di milikinya.

Dengan demikian beberapa konsep yang berhubungan dengan pemerintahan islam diatas, dapatlah ditarik beberapa pengertian, Pertama konsep khilafah lebih bersifat umum, artinya sebagai sebuah konsep, imamah dan imarah tercakup di dalamnya. Kedua masing-masing konsep dapat dipahami dengan pendekayan karakteristik dan berbede-beda khilafah lebih bersifat teologis dan sosiologis sekaligus. Imamah murni bersifat teologis, sementara itu imarah murni bersifat sosiologis .

Agama

Pembahasan Tentang Fiqih Siyasah

Pembahasan Tentang Fiqih Siyasah

Pembahasan Tentang Fiqih Siyasah
Pembahasan Tentang Fiqih Siyasah

Definisi Fiqh Siyasah

Fiqh Siyasah terdiri dari dua kata berbahasa Arab fikih atau fiqh dan siyasah. Agar diperoleh pemahaman yang pas apa yang dimaksud dengan Fiqh Siyasah, maka perlu dijelaskan pengertian masing – masing kata dari segi bahasa dan istilah.
Secara etimologis ( bahasa ) fiqh adalah keterangan-keterangan tentang pengertian atau paham dari maksud ucapan Si pembicara, atau pemahaman yang mendalam terhadap maksud – maksud perkataan dan perbuatan. Secara terminologis (istilah ), menurut ulama – ulama syara, fiqh adalah pengetahuan tentang hukum – hukum yang sesuai dengan syara mengenai amal perbuatan yang diperoleh dari dalil yang tafshil (terinci, yakni dalil-dalil atau hukum-hukum khusus yang diambil dari dasar – dasarnya dan sunah). Jadi fiqh adalah pengetahuan mengenai hukum agama islam yang bersumber dari al quran dan sunah yang disusun oleh mujtahid dengan jalan penalaran dan ijtihad.

Kata siyasat bersal dari kata sasa. Kata ini dalam kamus Al Munjid dan Lisan Al – Arab berarti mengatur, mengurus dan memerintah. Jadi siyasah menurut bahasa mengandung beberapa arti, yaitu mengatur, mengurus, memerintah, memipin, membuat kebijaksanan, pemerintahan dan politik. Secara terminologis dalam Lisan Al Arab siyasat adalah mengatur atau memimpin sesuatu dengan cara yang membawa kepada kemaslahatan.

Dari uraian tentang pengertian istilah fiqh dan siyasat dari segi etimologis dan terminologis dapat disimpulkan bahwa pengertian Fiqh Siyasah atau Fiqh Syar’iyah ialah “ilmu yang mempelajari hal – ihwal seluk – beluk pengatur urusan umat dan negara dengan segala bentuk hukum, pengaturan dan kebijaksanaan yang dibuat oleh pemegang kekuasan yang sejalan dengan dasar – dasar ajaran syariat untuk mewujudkan kemaslahatan umat.

Hubungan antara Ilmu fiqh dan Fiqh Siyasah

Baca Juga: Rukun Islam

Hubungan antara Ilmu fiqh dan Fiqh Siyasah dalam system hukum islam adalah hukum – hukum islam yang digalih dari sumber yang sama dan ditetapkan untuk mewujudkan kemaslahatan. Kemudian hubungan keduanya dari sisi lain, Fiqh Siyasah dipandang sebagai bagian dari fiqh atau dalam kategori fiqh. Bedanya terletak pada pembuatanya. Fiqh ditetapkan oleh mujtahid. Sedangkan Siyasah Syar’iyah ditetapkan oleh pemegang kekuasan.

Manfaat Fiqh Siyasah

Manfaat siyasah adalah:
1) mengatur peraturan dan perundang-undangan Negara sebagai pedoman dan landasan idiil dalam mewujudkan kemashalatan umat,
2) pengorganisasian dan pengaturan untuk mewujudkan kemaslahatan, dan
3) mengatur hubungan antara pengusaha dan rakyat serta hak dan kewajiban masing-masing dalam usaha mencapai tujuan Negara.

Agama

Masuknya Islam Di Bali (Sejarah)

Masuknya Islam Di Bali (Sejarah)

Sejarah masuknya agama Islam ke Bali sejak jaman kerajaan pada abad XIV berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, tidak merupakan satu-kesatuan yang utuh. Sejarah masuknya Islam ke Pulau Bali dengan latarbelakang sendiri dari masing-masing komunitas Islam yang kini ada di Pulau Bali.

Drs Haji Mulyono

Menurut seorang tokoh Islam di Bali Drs Haji Mulyono, penyebaran agama Islam ke Bali antara lain berasal dari Jawa, Madura, Lombok dan Bugis. Masuknya Islam pertama kali ke Pulau Dewata lewat pusat pemerintahan jaman kekuasaan Raja Dalam Waturenggong yang berpusat di Klungkung pada abad ke XIV.

Raja Dalem Waturenggong

Beliau berkuasa selama kurun waktu 1480-1550. Ketika berkunjung ke Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, sekembalinya ke Bali beliau diantar oleh 40 orang pengawal yang beragama Islam. Ke-40 pengawal tersebut akhirnya diizinkan
menetap di Bali.

Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam kerajaan Gelgel. Mereka menempati satu pemukiman dan membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadah umat Islam tertua di Pulau Bali.

Hal yang sama juga terjadi pada komunitas muslim yang tersebar di Banjar Saren Jawa di wilayah Desa Budakeling, Kabupaten Karangasem, Kepaon, kelurahan Serangan (Kota Denpasar), Pegayaman (Buleleng) dan Loloan (Jembrana).

Masing-masing komunitas itu membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menjadi satu kesatuan muslim yang utuh. Demikian pula dalam pembangunan masjid sejak abad XIV hingga sekarang mengalami akulturasi dengan unsur arsitektur tradisional Bali.

Akulturasi

Akulturasi dua unsur seni yang diwujudkan dalam pembangunan masjid menjadikan tempat suci umat Islam di di Bali tampak beda dengan bangunan masjid di Jawa maupun daerah lainnya di Indonesia. Akulturasi unsur Islam-Hindu yang terjadi ratusan tahun silam memunculkan ciri khas tersendiri, unik dan menarik.

Islam di Bali Masa Kini

Di Bali kini terdapat beberapa desa-desa muslim seperti Pegayaman (Buleleng), Palasari, Loloan, dan Yeh Sumbul (Jembrana), Nyuling (Karangasem), dan kampung muslim di Kepaon di Badung.

Kehidupan di desa-desa tersebut tak ubahnya seperti kehidupan di Bali pada umumnya. Yang membedakan hanya tempat ibadah saja. Bahkan di Desa Pegayaman, karena letaknya di pegunungan dan tergolong masih agraris, semua simbol-simbol adat Bali seperti subak, seka, banjar, dipelihara dengan baik. Begitu pula nama-nama anak mereka, Wayan, Nyoman, Nengah, Ketut tetap diberikan sebagai kata depan yang khas Bali.

Penduduk kampung ini konon berasal dari para prajurit Jawa atau kawula asal Sasak dan Bugis beragama Islam yang dibawa oleh para Raja Buleleng, Badung, dan Karangasem pada zaman kerajaan Bali.

Orang-orang muslim di Kepaon adalah keturunan para prajurit asal Bugis. Kampung yang mereka tempati sekarang merupakan hadiah raja Pemecutan. Hubungan warga muslim Kepaon dengan lingkungan puri (istana) hingga sekarang masih terjalin baik.

Komunitas muslim di Kampung Kepaon dan Pulau Serangan dihuni warga keturunan Bugis. Konon, nenek moyang mereka adalah para nelayan yang terdampar di Bali. Ketika terjadi perang antara Kerajaan Badung dengan Mengwi, mereka dijadikan prajurit. Setelah mendapat kemenangan, kemudian diberi hadiah tanah untuk ditempati.

Demikian sekilas tentang Sejarah Islam di Bali semoga bermanfaat. Aamiin.

Baca Juga: 

Agama

Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits
Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Sejarah Pengkodifikasian Hadits

Sejarah penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits, terlihat bahwa begitu besarnya peranan yang dimainkan oleh masing-masing perawi Hadits dalam rangka mencatat dan memelihara keutuhan Hadits Nabi SAW. Kegiatan pendokumentasian Hadits, terutama pengumpulan dan penyimpanan Hadits-Hadits Nabi SAW, baik melalui hafalan maupun melalui tulisan yang dilakukan oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’i al-Tabi’in, dan mereka yang datang sesudahnya, yang rangkaian mereka itu disebut dengan sanad, sampai kepada generasi yang membukukan Hadits-Hadits tersebut, seperti Malik ibn Anas, Ahmad ibn Hanbal, Bukhari, Muslim, dan lainnya, telah menyebabkan terpeliharanya Hadits-Hadits Nabi SAW sampai ke tangan kita seperti sekarang ini.

Penjelasan Sejarah

Berdasarkan sejarah periwayatan Hadits, para perawi, mulai dari tingkatan Sahabat sampai kepada Ulama Hadits masa pembukuan Hadits, telah melakukan pendokumentasian Hadits melalui hafalan dan tulisan. Bahkan, menurut Al-Azami, pada tingkatan Sahabat pengumpulan dan pemeliharaan Hadits dilakukan dengan tiga cara,( M.M. Azami, Studies in Hadith Metodology and Literature (Indianapolis: American Trust Publications, 1413 H/1992 M), h. 13-14) yaitu: (i) Learning by memorizing, yaitu dengan cara mendengarkan setiap perkataan dari Nabi SAW secara hati- hati dan menghafalkannya; (ii) Learning through writing, yaitu mempelajari Hadits dan menyimpannya dalam bentuk tulisan. Dalam cara ini, yaitu menyimpan dan menyampaikan Hadits dalam bentuk tulisan, terdapat sejumlah Sahabat, yaitu seperti Abu Ayyub al-Anshari (w. 52 H), Abu Bakar al-Shiddiq (w. 13 H), Abd Allah ibn ‘Abbas (w. 68 H), ‘Abd Allah ibn ‘Umar (w. 74 H), dan lain-lain.( Lebih lanjut lihat M M. Azami, Studies in Early Hadith Literature (Indianapolis. American Trust Publications. 1978). h. 34-80) (iii) Learning by practice, yaitu para Sahabat mempraktikkan setiap apa yang mereka pelajari mengenai Hadits, yang diterimanya baik melalui hafalan maupun melalui tulisan.

Kesimpulan

Demikianlah cara-cara para Sahabat dalam menerima dan memelihara Hadits-Hadits Nabi SAW. Cara yang demikian tetap dipertahankan oleh para Sahabat dan Ulama yang datang setelah mereka, setelah wafatnya Nabi SAW. Khusus mengenai kegiatan penulisan Hadits yang dilakukan oleh masing-masing generasi periwayat Hadits, mulai dari generasi Sahabat, generasi Tabi’in, Tabi’i al-Tabi’in, sampai para Ulama sesudah mereka, telah didokumentasikan oleh M.M. Azami di dalam disertasi doktornya yang berjudul Studies in Early Hadith Literature.

Metode Terakhir

Dalam perkembangan berikutnya, proses pendokumentasian Hadits semakin banyak dilakukan dengan tulisan. Hal ini terlihat dari delapan metode mempelajari Hadits yang dikenal di kalangan Ulama Hadits, tujuh di antaranya, yaitu metode kedua sampai kedelapan, adalah sangat tergantung kepada materi tertulis, bahkan sisanya yang satu lagi pun, yaitu yang pertama, juga sering berkaitan dengan materi tertulis. Kedelapan metode tersebut adalah:
Sama’, yaitu bacaan guru untuk murid-muridnya. Metode ini berwujud dalam empat bentuk, yakni: bacaan secara lisan, bacaan dari buku, tanya jawab, dan mendiktekan.

‘Ardh, yaitu bacaan oleh para murid kepada guru. Dalam hal ini para murid atau seseorang tertentu yang disebut Qari’, membacakan catatan Hadits di hadapan gurunya, dan selanjutnya yang lain mendengarkan serta membandingkan dengan catatan mereka atau menyalin dari catatan tersebut.
Ijazah, yaitu memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan sebuah Hadits atau buku yang bersumber darinya, tanpa terlebih dahulu Hadits atau buku tersebut dibaca di hadapannya.
Munawalah, yaitu memberikan kepada seseorang sejumlah Hadits tertulis untuk diriwayatkan/disebarluaskan, seperti yang dilakukan oleh Al-Zuhri (w. 124 H) kepada Al-Tsauri, Al-Auza’i, dan lainnya.
Kitabah, yaitu menuliskan Hadits untuk seseorang yang selanjutnya untuk diriwayatkan kepada orang lain.
I’lam, yaitu memberi tahu seseorang tentang kebolehan untuk meriwayatkan Hadits dari buku tertentu berdasarkan atas otoritas Ulama tertentu.

Washiyyat, yaitu seseorang mewasiatkan sebuah buku atau catatan tentang Hadits kepada orang lain yang dipercayainya dan dibolehkannya untuk meriwayat-kannya kepada orang lain. Wajadah, yaitu mendapatkan buku atau catatan seseorang tentang Hadits tanpa mendapatkan izin dari yang bersangkutan untuk meriwayatkan Hadits tersebut kepada orang lain. Dan, cara yang seperti ini tidak dipandang oleh para Ulama Hadits sebagai cara untuk menerima atau mempelajari Hadits.

Melalui cara-cara di atas, masing-masing sanad Hadits secara berkesinambungan, mulai dari lapisan Sahabat, Tabi’in, Tabi’i al-Tabi’in, dan seterusnya sampai terhimpunnya Hadits-Hadits Nabi SAW di dalam kitab-kitab Hadits seperti yang kita jumpai sekarang, telah memelihara dan menjaga keberadaan dan kemurnian Hadits Nabi SAW, yang merupakan sumber kedua dari ajaran Islam. Kegiatan pendokumentasian Hadits yang dilakukan oleh masing-masing sanad tersebut di atas, baik melalui hafalan maupun melalui tulisan, telah pula didokumentasikan oleh para Ulama dan para peneliti serta kritikus Hadits. Kitab-kitab Hadits yang muktabar dan standar, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya, di dalam menuliskan Hadits juga menuliskan secara urut nama-nama sanad Hadits tersebut satu per satu, mulai dari sanad pertama sampai sanad terakhir.

Kegiatan pendokumentasian Hadits yang telah dilakukan oleh para sanad Hadits sebagaimana telah dijelaskan di muka, merupakan suatu kontribusi besar bagi keterpeliharaan dan kesinambungan ajaran agama Islam yang telah disumbangkan oleh para sanad Hadits.

Demikian uraian tentang Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits semoga bermanfaat. Aamiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Agama

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits
Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Status dan kualitas suatu Hadits, apakah dapat diterima atau ditolak, tergantung kepada sanad hadits dan matan Hadits tersebut. Apabila sanad suatu Hadits telah memenuhi syarat-syarat dan kriteria tertentu, demikian juga matannya, maka Hadits tersebut dapat diterima sebagai dalil untuk melakukan sesuatu atau menetapkan hukum atas sesuatu; akan tetapi, apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka Hadits tersebut ditolak dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Kualitas Hadits yang dapat diterima sebagai dalil atau hujjah adalah Shahih dan Hasan, dan keduanya disebut juga sebagai Hadits Maqbul (Hadis yang dapat diterima sebagai dalil atau dasar penetapan suatu hukum).(M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 303; Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-‘llm li al-Malayin, 1973), h. 141).

Syarat Qabul Hadits

Di antara syarat qabul suatu Hadis adalah berhubungan erat dengan sanad Hadis tersebut, yaitu:
(1) Sanad-nya bersambung,
(2) Bersifat adil, dan
(3) Dhabith.
Dan, syarat selanjutnya berhubungan erat dengan matan Hadis, yaitu:
(4) Hadisnya tidak syadz, dan
(5) Tidak terdapat padanya ‘illat.( Mahmud al-Thahhan, Taisir, h. 33; Ibn al-Shalah, ‘Ulum al-Hadits, ed. Nur al-Din “Atr (Madinah. Maktabat al-‘Ilmiyyah, 1972), h. 10. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 305).

Penjelasan

Dari lima kriteria yang disebutkan di atas agar suatu Hadis dapat diterima sebagai dalil atau hujjah, tiga di antaranya adalah berhubungan dengan sanad Hadis tersebut. Suatu Hadis, manakala sanadnya tidak bersambung atau terputus, maka Hadis tersebut tidak dapat diterima sebagai dalil. Keterputusan sanad tersebut dapat terjadi pada awal sanad, baik satu orang perawi atau lebih (disebut Hadis Mu’allaq), atau pada akhir sanad (disebut Hadis Mursal), atau terputusnya sanad satu orang (Munqathi’, atau dua orang atau lebih secara berurutan (Mu’dhal), dan lainnya. Demikian juga halnya apabila sanad Hadis mengalami cacat, baik cacat yang berhubungan dengan keadilan para perawi, seperti pembohong, fasik, pelaku bid’ah, atau tidak diketahui sifatnya, atau cacatnya berhubungan dengan ke-dhabith-annya, seperti sering berbuat kesalahan, buruk hafalannya, lalai, sering ragu, dan menyalahi keterangan orang-orang terpercaya. Keseluruhan cacat tersebut, apabila terdapat pada salah seorang perawi dari suatu sanad Hadis, maka Hadis tersebut juga dinyatakan Dha’if dan ditolak sebagai dalil. Pembicaraan mengenai macam- macam Hadis, baik yang dapat atau tidak dapat dijadikan sebagai dalil, merupakan topik bahasan pada bab selanjutnya.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa sanad suatu Hadis sangat berperan dalam menentukan kualitas Hadis, yaitu dari segi dapatnya diterima sebagai dalil (Maqbul) atau tidak (Mardud).

Karena begitu pentingnya peranan dan kedudukan sanad dalam menentukan kualitas suatu Hadis, maka para Ulama telah melakukan upaya-upaya untuk mengetahui secara jelas dan rinci mengenai keadaan masing-masing sanad Hadis. Upaya dan kegiatan ini berwujud dalam bentuk penelitian Hadis, khususnya penelitian sanad Hadis. Kitab-kitab yang disusun dan memuat tentang keadaan para perawi Hadis, seperti data-data mereka, biografi mereka, dan keadaan serta sifat-sifat mereka, di antaranya adalah:

(a) Karya yang membahas tentang riwayat hidup para Sahabat

Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashhab, oleh Ibn Abd al-Barr al-Andalusi;
Usud al-Ghabat fi Ma’rifat al-Shahabat, oleh 1z al- Din Abi al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn al-Atsir al-Jaziri (w. 630 H);
Al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat, oleh Ibn Hajar al- Asqalani (w. 852 H).

(b) Kitab-kitab Thabaqat

Al-Thabaqat al-Kubra, oleh Abu Abd Allah Muhammad ibn Sa’d al-Waqidi (w. 230 H);
Tadzkirat al-Huffazh, oleh Abu Abd Allah Ahmad ibn Utsman al-Dzahabi (w. 748 H).

(c) Kitab-kitab yang memuat riwayat hidup para perawi Hadis secara umum

Al-Tarikh al-Kabir, oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H);
Al-Jarh wa al-Ta’dil, oleh Ibn Abi Hatim (w. 327 H).

(d) Karya-karya yang memuat tentang para perawi Hadis dari kitab-kitab tertentu

Al-Hidayat wa al-Irsyad fi Ma’rifat ahl al-Tsiqat wa al-Sadad, oleh Abu Nashr Ahmad ibn Muhammad al-Kalabadzi (w. 398 H) (kitab ini memuat secara khusus para perawi Hadis dari kitab Shahih al- Bukhari).

Sedangkan kitab-kitab yang memuat biografi para perawi Hadis yang terdapat di dalam al-Kutub al-Sittah dan lainnya adalah seperti: Al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, oleh Abd al-Ghani al- Maqdisi (w. 600 H),
Tahzib al-Kamal, oleh Al-Mizzi (w. 742 H); Tahdzib al-Tahdzib, oleh Al-Dzahabi (w. 748 H),
Tahdzib al-Tahdzib, oleh Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), dan lain-lain.

Demikian uraian tentang Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits semiga bermanfaat. Aamiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Agama

Cara Sholat Orang Musafir Menjama’ Sholat

Cara Sholat Orang Musafir Menjama’ Sholat

Cara Sholat Orang Musafir Menjama' Sholat
Cara Sholat Orang Musafir Menjama’ Sholat

Sholat Musafir

Sholatnya Musafir,: Orang musafir (orang yang sedang dalam bepergian) dibolehkan mengqashar (mengurangi bilangan rakaat) dari sholat golongan empat rakaat, juga dibolehkan menjama’ (menghimpun) antara shalat Dhuhur dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ baik secara taqdim (mendahulukan : Dhuhur dengan Ashar dikerjakan waktu Dhuhur, Maghrib dengan Isya’ dikerjakan waktu Maghrib) dan boleh secara ta’khir (mengakhirkan : Dhuhur dengan Ashar dikerjakan waktu Ashar, Maghrib dan Isya’ dikerjakan waktu Isya’).

 Pengertian Shalat Jama’

Shalat jama’ artinya mengumpulkan dua shalat wajib dalam satu waktu.11 Misalnya, shalat dzuhur dan ashar pada waktu dzuhur atau ashar.

Dasar Shalat Jama’

Shalat jama’ hukumnya boleh bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan berada dalam keadaan hujan, sakit atau karena ada keperluan lain yang sukar menghindarinya.12 Akan tetapi selain dari perjalanan masih diperselisihkan para ulama.

Shalat wajib yang boleh dijama’ ialah shalat dzuhur dengan shalat ashar dan shalat maghrib dengan shalat isya. Dasarnya hadits Ibnu Abbas:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجمع بين صلاة الظهر والعصر إذا كان على ظهر سير ويجمع بين المغرب والعشاء – رواه البخاري

“Rasulullah SAW biasa menjama’ antara shalat dzuhur dengan ashar, apabila beliau sedang dalam perjalanan dan menjama’ maghrib atau isya”.

Hukum Menjama’ shalat isya dengan shubuh

Menjama’ shalat isya dengan shubuh tidak boleh atau menjama’ shalat ashar dengan maghrib juga tidak boleh, sebab menjama’ shalat yang dibenarkan oleh Nabi SAW hanyalah pada seperti tersebut pada hadits-hadits Ibnu Abbas.

Adanya orang yang menjamin lima shalat wajib sekaligus pada saat yang sama adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Orang yang melakukan hal semacam ini biasanya beranggapan bahwa boleh mengqadha shalat. Padahal shalat wajib yang ditinggalkan oleh seorang muslim, selain karena haid atau nifas atau keadaan bahaya maka orang itu termasuk melakukan dosa besar dan shalat wajib yang ditinggalkannya itu tidak dapat diganti pada waktu yang lain atau diqadha. Sebagaimana dalam sebuah hadits.

لا قضى فى الصلاة ولكن قضى فى الصوم – الحديث

“… tidak ada qadha dalam shalat tapi qadha itu ada pada puasa” (Al Hadits)

Demikian

Baca Juga:

Agama

Sholat Jum’at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum ‘at

Sholat Jum’at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum ‘at

Sholat Jum'at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum 'at
Sholat Jum’at Dan Hal Yang Membolehkan Kita Tidak Sholat Jum ‘at

Hukum Sholat jum’at

Hukum Sholat Jum’at, Hukum sholat jum’at adalah fardhu ‘ain atas setiap pribadi orang islam, mukallaf, lelaki, sehat badanya lagi pula yang mustauthin (yang menetap di kotanya dan tidak dalam bepergian).

  • Syarat-Syarat Sahnya Sholat Jum’at
  • Syarat-syarat agar sholat jum’at itu menjadi sah :
  • Sholat jum’at itu agar diadakan di suatu negeri atau desa.
  • Hendaklah dilakukan secara berjama’ah sebanyak 40 orang.
  • Waktu dimulai hingga sholatnya dikerjakan pada waktu Dhuhur.
  • Supaya didahului dengan khutbah dua kali.
  • Jangan sampai didahului atau bersamaan waktunya dengan sholat jum’at lain di negeri itu.

Syarat-syaratnya kedua khutbah :

  • Khotib supaya suci dari hadats (besar maupun kecil),
  • Baik pakain, badannya dan tempatnya berkhutbah hendaklah suci dari semua najis.
  • Khatib supaya menutupi aurat.
  • Supaya berdiri dalam berkhutbah kalau kuasa.
  • Diselingi duduk antara dua khutbah dengan kadar dapat tuma’ninah.
  • Mengeraskan suaranya hingga dapat didengar oleh sekurang-kurangnya 40 orang yang hadir.
  • Supaya melakukan muwalat antara dua khutbah, dan antara khutbah dengan sholat.

Yang menjadi rukun-rukunnya dua khutbah :

  • Bertahmid ( Mengucapkan Alhamdulillah ).
  • Bersholawat atas Nabi Muhammad saw.
  • Berwasiat dengan taqwa, seperti ucapan Uushikum Waiyyaaya Bitaqwallah ( saya berwasiat kepada saudara-saudara dan kepada diriku sendiri dengan taqwa kepada Allah ) atau : Athie’ullah ( taatlah kamu sekalian kepada Allah ). Wasiat demikian dalam kedua khutbah.
  • Membaca ayat Al-Qur’an dengan sempurna, memahamkan dengan pengertian yang tidak meragukan dalam salah satu dua khutbah.
  • Berdo’a ( berkenaan dengan hal keakhiratan ) juga untuk seluruh kaum mukmin dalam khutbah akhir.

Beberapa uzur meninggalkan sholat jum’at

  • Beberapa uzur meninggalkan sholat jum’at : Sholat jum’at itu gugur dikarenakan orang itu : sakit, lumpuh, buta, juga karena hujan yang lebat.
  • Yang dapat dianggap mendapatkan sholat jum’at : Orang dapat dianggap mendapatkan sholat jum’at manakalah memperoleh satu rakaat beserta imam. Yang mana satu rakaat itu imam mengeraskan bacaan Fatihah dan suratnya, tetapi kalau tidak mendapatkan satu rakaat saja, hendaklah orang itu berniat sholat jum’at dengan menyempurnakan sebagaimana sholat Dhuhur (dengan mengerjakan empat rakaat).

Sunnah-sunnahnya jum’at :

  • Mandi dan membersikan diri.
  • Memotong kuku.
  • Memakai wangi-wangian.
  • Mengenakan pakain serba putih.
  • Tekun mendengarkan khutbah.
  • Berangkat ke masjid lebih awal (selain yang menjadi khutbah).

Demikian

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/