Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Koruptorindonesia.co.id Situs teknologi online terlengkap yang membahas berbagai jenis gadget teknologi seperti Smartphone, PC dan teknologi terbaru lainnya.

Pendidikan

Benedict Anderson

Benedict Anderson

Benedict Anderson

Benedict Anderson
Nama  ahli  politik  yang  satu  ini  cukup  dikenal  di  Indonesia.  Dia menulis buku Imagined Community yang amat terkenal. Guru besar ilmu politik dari Cornell University (AS) ini adalah salah seorang Indonesianis garda depan. Benedict  Anderson  memahami  nasionalisme  sebagai  komunitas khayalan  (imagined  community)  yang  disatukan  oleh  sebuah persahabatan  horisontal  yang  mendalam  di  mana  anggota-anggotanya diyakini  mengkonstitusi  (menciptakan)  sebuah  en-titas  yang  kuat  dan utuh.
Bagi  Anderson,  komunitas  khayalan  ini  ada  atau  terbentuk  karena kekuatan  media  massa,  khususnya  media  cetak.  Media  cetak  sangat berperan  dalam  menyebarluaskan  diseminasi  (penggandaan) gagasan/ide dari bangsa. Anderson menekankan bahwa bacaan atas surat kabar harian atau  majalah  mingguan  yang  secara  teratur  dan  sinkronik  membentuk para  pembacanya  untuk  berbagi  perasaan,  gagasan  atau  serangkaian minat  bersama,  karena  isi  dan  fokus  dari  berita.  Menurut  Anderson, penga-laman kebangsaan berakar setiap hari karena sha-red reading ini.
Mari  kita kemukakan sebuah  contoh  untuk  menjelaskan  konsep  yang abstrak  ini.  Tanggal  26  Desember  2004  gelombang  tsunami menghancurkan  Provinsi  Nangro  Aceh  Darussalam  dan  mene-waskan ratusan  ribu  orang.  Seluruh  masyarakat  bangsa  Indonesia  ikut  bersedih dan  membantu  saudaranya  yang  tertimpa  musibah  tersebut.  Perasaan bahwa  Aceh adalah bagian  dari  saudara  kita  umumnya ditimbulkan oleh media  massa  yang  kita  baca, tonton, atau  dengar.  Kalian bisa  bayangkan apa  jadinya  kalau  bencana  itu  terjadi  pada  zaman  di  mana  media  massa belum  mengalami  kemajuan  seperti  sekarang  ini.  Barangkali  tidak  akan muncul banyak orang yang mengetahui dan membantu.
Nah,  kira-kira  proses  pembentukan  nasionalisme  menurut  Benedict Anderson  terjadi  seperti  itu.  Suatu  komunitas  pada  akhirnya  memiliki perasaan  kebangsaan  yang  sama  karena  perasaan  itu  ditimbulkan  oleh kesamaan minat dan perhatian mereka. Kesamaan minat dan perhatian it ditimbulkan  oleh  media  cetak  (koran  dan  majalah)  yang  mereka  baca. Kesamaan  minat  dan  perhatian  itu  pada  gilirannya  memicu  perasaan komunitas  tersebut  untuk  mengkhayalkan  sebuah  masyarakat  tempat mereka  hidup  bersama  sebagai  warga  masyarakat.  Wujud  konkret  dari komunitas khayalan itu adalah negara.
Konflik  antara  Indonesia  dan  Malaysia  di  perairan  Ambalat  yang memicu  gelombang  protes  masyarakat  Indonesia  pun  dapat  dipahami dengan  memakai  pemahaman  Anderson  ini.  Harus  diakui  bahwa  kita mengetahui  adanya  konflik  tersebut  dari  media  massa.  Media  massalah yang  menimbulkan  perasaan  kebangsaan  kita.  Kehadiran  kapal-kapal perang  dan  tentara  Indonesia  yang  siaga  dua  puluh  empat  jam  memicu khayalan  kita  untuk  membayangkan  sebuah  keutuhan  wilayah  dan kebesaran  bangsa  Indonesia.  Khayalan-khayalan  seperti  inilah  yang menyatukan  masyarakat  dalam  gelombang  protes  terhadap  tindakan sewenang-wenang Malaysia. Di  sini  memang  perasaan lebih memainkan peran daripada pikiran. Nasionalisme sebagai imagined community harus lebih menonjolkan perasaan daripada pikiran.
Bagaimanapun  juga,  pemikiran  Anderson  ada  kelemahannya  juga. Kelemahaman  pandangan  Anderson  adalah  bahwa  dia  hanya menekankan peran  media  cetak dalam menghasilkan kultur  dan  identita kebangsaan.  Padahal  masih  ada  lagi  produksi  kultur  dan  identita kebangsaan  melalui  ruang  musik  (music  hall)  dan  teater,  musik-musi popular, pesta-pesta, arsitektur,  fesyen,  juga  melalui televisi, film,  radio, dan teknologi informasi lainnya.

•  Anthony Smith

Masih  ingat  pandangan  Ernest  Gellner  dan  Eric  Hobsbawn  mengenai nasionalisme?  Di  atas  sudah  dikemukakan  kelemahan-kelemahan  dari pandang-an  mereka.  Nah,  Anthony  Smith  sendiri  mengkhususkan  diri untuk mengkritik secara tajam pandangan Gellner dan Hobsbawn tentang sifat  nasionalisme.  Gellner  dan  Hobsbawn  berpendapat  bahwa nasionalisme  adalah  produk  modern,  jadi  masa-masa  sebelum  zaman modern belum ada nasionalisme. Bagi  Smith, nasionalisme atau perasaan kebang-saan  sudah  ada  jauh  sebelum  lahirnya  suatu  bang-sa.  Perasaan kebangsaan sudah ada bahkan dalam diri kelompok etnis yang kemudian mendorong me-reka untuk membentuk negara itu sendiri.
Di  sini  Smith  memahami  etnisitas  sebagai  kelompok  sosial  dengan identitas  tertentu  dan  yang  membedakan  diri  mereka  dari  orang  lain.Umumnya  kelompok-kelompok  etnis  membentuk  sendiri  batas-batas (boundaries) dan  menciptakan simbol-simbol  yang menjadi tanda bahwa “kita”  (us)  berbeda  dari  “mereka”  (they).  Dalam  perkembangannya, kelompok-kelompok  etnis  semacam  ini  bisa  saja  membentuk  sebuah negara.  Kalau  ini  yang  terjadi,  maka  nasionalismenya  bersifat nasionalisme etnik.
Selain  berpendapat  bahwa  perasaan  dan  identitas  kebangsaan  sudah ada  jauh  sebelum  terbentuknya  sebuah  negara,  Smith  juga  berpendapat bahwa  nasionalisme  berhubungan  dengan  pembentukan  identitas nasional  suatu  bangsa.  Pembentukan  identitas  nasional  dapat  terjadi melalui  penciptaan  simbol-simbol  nasional.  Bagi  dia,  simbol-simbol nasional  tidak diciptakan  sepihak  oleh  elit,  tapi  oleh  berbagai  kelompok yang  berbeda.  Karena  mengikutsertakan  banyak  kelompok  masyarakat dalam  penciptaan  simbol-simbol  nasional,  maka  sering  terjadi  konflik dalam  proses  penciptaan  simbol-simbol  nasional  ini.  Konflik-konflik tersebut wajar dan perlu sejauh tidak membawa perpecahan bangsa. Menurut Smith,  dalam  menciptakan  simbol-simbol  tersebut  tidak  ada cetak  biru (blue print) yang siap  dipakai sebagai contoh.  Tidak hanya itu.
Bah-kan dalam proses pembentukan  kebudayaan nasio-nal pun tidak ada cetak  biru.  Karena  itu,  seluruh  lapisan  masyarakat  benar-benar  harus terlibat  dan  berpartisipasi  dalam  proses  pembentukan  identitas  nasional dan kebudayaan bangsanya.
Jika terjadi bahwa dalam proses pembentukan identitas bangsa melalui penciptaan  simbol-simbol  tersebut  tidak  ada  serangakaian  simbol  yang dapat  diterima  bersama,  maka  pada  saat  ini  kelompok-kelompok  sosial yang  ada  harus  memilih  simbol-simbol  yang  multipel  dengan  maksud supaya  kelompok-kelompok  yang  berbeda  pandangan  dapat  didorong untuk  menerima  dan  mengidentifikasikan  dirinya  dengan  simbol-simbol tersebut.
Menurut  Smith,  dapat  saja  terjadi  bahwa  ada  kebudayaan  dari  etnis tertentu  yang  diterima  sebagai  kebudayaan  nasional  asal  memenuhi persyaratan.  Syaratnya  adalah  kebudayaan  dari  etnis  tersebut  harus masuk akal dan kredibel. Perhatikan di sini bahwa masuk akal tidak sama dengan  rasional.  Sesuatu  yang  masuk  akal  belum  tentu  rasional, sementara  sesuatu  yang  rasional  sudah  tentu  masuk  akal.  Ziarah  ke kuburan  dan  bersemedi  untuk  meminta  “berkat  dan  pertolongan”  dari arwah  nenek  moyang  atau  tokoh-tokoh  terkenal  yang  sudah  mati memang  tidak  rasional, tetapi  masuk  akal.  Karena itu  upacara seperti  ini dapat menjadi ekspresi dari kebudayaan nasional Indonesia Dengan  pandangan  semacam  ini  Smith  sebetulnya  memiliki pemahaman  yang  sangat  baik  mengenai  kebudayaan.  Bagi  dia, kebudayaan  adalah  sesuatu  yang  dinamis.  Sifat  dinamis  ini  ada  karena proses  pembentukannya tidak mengikuti cetak biru tertentu,  tetapi proses bersama  dari  seluruh  anggota  masyarakat.  Selain  itu,  kebudayaan  suatu bangsa  terdiri  dari  macam-macam  unsur,  an-tara  lain  unsur  repository (kebudayaan-kebudayaan  yang  sudah  ada  sekarang  dan  masih  terpelihara),  unsur  warisan  antargenerasi,  serangkaian  tradisi,  dan pembentukan  secara  aktif  makna  dan  imaji-imaji  oleh  masyarakat  itu sendiri.  Unsur  yang  terakhir  ini—pembentukan  secara  aktif  makna  dan imaji-imaji  oleh  masyarakat  itu  sendiri—terejawan-tah  dalam  nilai-nilai, mitos-mitos,  dan  simbol-simbol   yang  pantas  untuk  menyatukan sekelompok  orang  dengan  pengalaman-pengalaman  dan  kenangan- kenangan  yang  sama  dan  yang  membeda-kan  me-reka  dari  kelompok luar.

sumber :

Endless Fables 3: Dark Moor 1.0 Apk + Data for android

Categories:
Pendidikan
You Might Also Like