LATAR BELAKANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH

LATAR BELAKANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH

LATAR BELAKANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH

LATAR BELAKANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH

Awal mula perjanjian ini

karena pada waktu itu rombongan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad akan pergi ibadah umrah. Namun, kaum musyrikin Quraisy menghalangi rombongan kaum muslimin yang akan pergi ke Makkah. Sehingga, Rasulullah SAW pun akhirnya mengajak mereka untuk bernegosiasi hingga mengadakan perjanjian damai.

Menurut riwayat Imam Bukhari, yakni perjanjian Hudaibiyah kaum Muslimin membawa berbagai peralatan senjata sekaligus alat perang. Hal ini untuk mengantisipasi penyerangan yang akan dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Saat rombongan kaum muslimin sudah tiba di Dzulhulaifah, kaum muslimin pun melangsungkan shalat serta berihram untuk melaksanakan ibadah umrah.

Saat melakukan umrah rombongan juga membawa 70 ekor unta yang akhirnya dijadikan sebagai hadyu atau hewan sembelih. Setelah rombongan tiba di Usfan, yakni sekitar 80 Km dari kota Makkah, seseorang dari utusan Nabi Muhammad shallallahi alaihi wa sallam, Busra bin Sufyun membawa kabar tentang kaum musyrikin Quraisy.

Kaum musyrikin Quraisy pun yang tahu kedatangan rombongan Nabi Muhammad shallallahi alaihi wa sallam langsung menghalagi perjalanan umrah Nabi Muhammad shallallahi alaihi wa sallam ke Makkah. Mereka langsung menghadang dengan menyiapkan pasukan.

Kaum Quraisy berangkat di bawah pimpinan Khalid bin Walid dengan tujuan memerangi Rasulullah dan mencegah Rasulullah SAW masuk ke Makkah. Sudah banyak terjadi bentrokan-bentrokan kecil pasukan Quraiys dengan kaum Muslimin. Jika setelah pemberontakan yang terjadi mereka membiarkannya masuk Makkah, maka kalangan Arab akan bicara bahwa Kaum Quraiys menyerah.

Dengan maksud menjaga kewibawaan dan kedudukan dari kaum Quraisy, akhirnya mereka melarang Muslimin masuk ke Makkah. Namun, sebenarnya kaum Quraisy tidak ingin melakukan hal tersebut saat bulan-bulan suci Ramadhan mereka tidak ingin melanggar kesucian agama.

Dan dari segi yang lain, bila terjadi peperangan di bulan suci, maka orang-orang Arab sudah tak lagi merasa aman.Jika orang-orang tidak merasa aman, maka hal ini akan menghancurkan perdagangan Makkah, di mana mayoritas warganya adalah pedagang.

Akhirnya, pembicaraan dan perundingan antara kedua belah pihak pun dimulai kembali. Kaum Quraisy akhirnya mengutus Suhail bin Amr. Ia berpesan kepadanya agar mendatangi Nabi Muhammad SAW dan adakan persetujuan dengannya.

Kaum Quraisy pun berpesan agar di dalam persetujuan itu, untuk tahun ini Nabi Muhammad SAW harus pulang. Jangan sampai ada satu pun kalangan Arab mengatakan bahwa dia telah berhasil memasuki tempat ini dengan kekerasan.

Akhirnya, Suhail pun bertemu Rasulullah, dan menjelaskan persoalan tersebut dengan panjang lebar. Ia pun menjelaskan apa saja syarat-syarat perdamaian. Dari pihak Muslimin di sekeliling Nabi Muhammad SAW juga turut mendengarkan semua pembicaraan itu.

Beberapa orang dari mereka pun justru sudah tidak sabar lagi melihat tingkah Suhail yang terlalu mendikte Rasulullah SAW. Dari apa saja yang dijelaskan, Nabi Muhammad SAW sendiri pun terkesan mandah saja.

Kalau tidak karena kepercayaan mutlak pihak Muslimin pada beliau, dan jika bukan karena iman mereka yang teguh, niscaya hasil perundingan antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy itu tidak akan mereka terima.


Sumber: https://mansionpromo.co.id/feist-apk/