Kisah Tsa’labah Dalam Al-Qur’an

Kisah Tsa'labah Dalam Al-Qur'an

Kisah Tsa’labah Dalam Al-Qur’an

Kisah Tsa'labah Dalam Al-Qur'an
Kisah Tsa’labah Dalam Al-Qur’an

Diriwayatkan dari Abi Umamah Al Bahily radhiyallaahu ‘anhu

bahwa alasannya ialah turunnya ayat tersebut ialah Tsa’ labah bin Hatib Al Anshaary selalu tinggal di mesjid Rasulillahi baik malam maupun siang. Dan hingga dahinya menebal ibarat lutut onta lantaran terlalu banyak sujud. Pada suatu hari dia keluar dari mesjid tanpa tetap sibuk dengan do’a dan shalat ibarat biasanya.
Maka Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu bersabda kepadanya : “Mengapa engkau berbuat ibarat perbuatan orang orang munafiq, tergesa gesa keluar?”.

Kata Tsa’ labah

“Wahai Rasulullah, saya tergesa gesa keluar lantaran saya spesialuntuk punya satu kain ini untuk saya dan untuk istri aku, dan kain ini saya pakai untuk shalat sedang dia telanjang dirumah, kemudian saya kembali kepadanya dan melepas kain ini dan dia memakainya dan dia shalat. Oleh lantaran itu, berdo’ alah, semoga Dia Allah memdiberi rizqi harta kepada aku”.
Sabda Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu : “Hai Tsa’ labah, sedikit yang engkau mau mensyukuri itu lebih baik dari pada banyak sedang engkau tidak berpengaruh (menerimanya)”.

Kemudian Tsa’ labah hadir kedua kalinya dan berkata : “Wahai Rasulullah, berdo’ alah kepada Allah semoga supaya Dia Allah memdiberi rizqi harta kepada saya !”.

Kata nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu : “Tidaklah ada padamu pola yang cantik pada pribada Rasulullah ?, demi Allah yang jiwa saya ditanganNya, jikalau sekiranya saya menghendaki pegunungan pegunungan menjadi emas dan perak berjalan bersama aku, (menjadi milik aku) pasti mereka menjadi emas dan perak berjalan bersama saya (dan/menjadi milik aku).

Tsa’ labahpun hadir kepada Nabi lagi serta berkata : “wahai Rasulullah, berdo’ alah engkau kepada Allah semoga supaya Dia memdiberi rizqi harta kepadaku; dan demi Allah Yang sudah mengutus engkau menjadi nabi, jikalau saya didiberi rizqi oleh Allah ta’ aala berupa harta, pasti akan saya diberikan kepada siapa yang memiliki hak (zakatnya)”.

Maka Tsa ‘labah mengambil/memelihara sebuntut kambing; dan kambing itu berkembang biak laksana berkembang biaknya ulat sehingga memenuhi kota Madinah. Dan Tsa ‘labah minggir dari kota Madinah dan turun /pergi kejurang, dan kambingpun terus berkembang laksana ulat, tiruanla dia selalu shalat Zduhur maupun Ashar dan kemudian dia shalat dalam tiruana waktu dilingkungan kambing kambingnya. Kambingnya terus menjadi banyak dan berkembang biak sehingga dia terpaksa lebih jauh dari kota Madinah bersama sama kambing kambingnya dan dia spesialuntuk sempat menyaksikan/mengunjungi shalat jum’at. Dan kambingpun terus menjadi banyak dan berkembang biak sehingga dia menjadi lebih jauh lagi dan tidak sempat lagi menyaksikan jum’at maupun jama’ah. Apabila hari jum’at dia keluar dan berjumpa dengan orang orang dia spesialuntuk bertanya tanya wacana diberita saja.

Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ta’aalaa ‘alaihi wassalama teringat kepadanya kemudian bertanya kepada para teman dekat: “Apakah yang dipperlakukan oleh Tsa ‘labah”. Mereka menjawaban : “Rasulullah, dia sudah berternak kambing sehingga jurangpun tidak memadai”. Sabda Rasulullah : “Celaka Tsa’ labah”.
Maka turun ayat shadaqah/zakat.

Rasulullah mengutus dua orang pria untuk mengambil hadaqah dan di jumpai oleh orang orang dengan shadaqah mereka, sehingga sampailah keduanya kepada Tsa’ labah, maka keduanya meminta kepadanya dan membacakan surat Rasulullah yang didalamnya menandakan hal yang fardhu. Dia tidak memdiberi bahkan berkata : “ini ialah spesialuntuk pajag atau semits’ al”.
Katanya pula : “Pulanglah kalian dan saya akan angan angan dan berfikir lampau !”.

Ketika keduanya kembali dan menghadap Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu, ia Nabi bersabda sebelum mereka berkata apa apa : “Celaka Tsa’ labah kedua kalinya”. Kemudian Allah menurunkan ayat taubat tersebut, sedang disisi nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu ada seorang laki laki dari sanak kerabat Tsa’ labah dan mendengarkan kata kata Rasulullah itu. Maka dia keluar dan hadir kepada Tsa’ labah serta berkata : “celaka engkau hai Tsa’ labah, sungguh Allah sudah menurunkan ayat sehubungan dengan engkau demikian”.

Maka Tsa’labah keluar menghadap Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu dengan membawa shadaqah . Nabi ‘alaihish shalaatu wassalamu bersabda : “Sungguh Allah sudah melarang saya mendapatkan shadaqah dari engkau”.
Maka dia menaburkan pasir di kepalanya. Dan Rasulullah bersabda : “Ini ialah perbuatanmu sendiri yang sungguh engkau sudah saya perintah tapi engkau tidak melaksanakan”, dan Rasulullah tetap enggang (tidak menerima).
Tsa’ labah terus pergi kepada Abu Bakar ridhiyallahu anhu dengan membawa shadaqah dan berkata : “Terimalah shadaqah saya ini !”.

Abu Bakar ridhiyallahu ‘anhu enggang mendapatkan dan berkata : “Rasulullah shallallahu ta’ aalaa ‘alaihi wa sallama saja tidak mau mendapatkan apakah saya akan menerimanya?”. Dia Abu Bakar tidak mau menerimanya. Kemudian Tsa’ labah hadir kepada Umar radhiyallaahu ‘anhu di pemerintahannya dan berkata : ” Terimalah shadaqah saya ini !”
Kata Umar : “Keduanya (Rasulullah dan Abu Bakar) tidak mau menerimanya, apakah saya akan menerimanya?”. Dia Umar tetap tidak mau menerimanya.

Tsa’ labah terus menhadiri Utsman radhiyallahu ta’aalaa ‘anhu dengan membawa shadaqahnya dan berkata : “Terimalah shadaqah saya ini !”.

Baca Juga: Sifat Allah

Meninggalnya Tsa’ labah

Kata Utsman : “Mereka (Rasulullah, Abu Bakar dan Umar) tidak mau menerimanya, apakah saya akan mendapatkan ?” Utsman tetap tidak mau menerima. Demikianlah sehingga Tsa’ labah meninggal dunia pada masa khilafah Utsman radhiyallahu ‘anhu. Semua siksa akibat ini ialah dari alasannya ialah sifat kikirnya, dan cintanya kepada harta kekayaan serta tidak mau mempersembahkan zakat. Dan lantaran bahwasanya menjalani akad itu sanggup menjadikan seseorang menjadi munafiq bahkan menjalani janjipun sudah ialah sepertiga dari pada perbuatan munafiq.
Ini sebagai isarat bahwa bahwasanya tanda orang-orang munafiq ada tiga : 1). Apabila dia berbicara berdusta, 2). Apabila dia berjanji menjalani dan 3). Apabila dia percaya berkhiyanat.