Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits
Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits

Status dan kualitas suatu Hadits, apakah dapat diterima atau ditolak, tergantung kepada sanad hadits dan matan Hadits tersebut. Apabila sanad suatu Hadits telah memenuhi syarat-syarat dan kriteria tertentu, demikian juga matannya, maka Hadits tersebut dapat diterima sebagai dalil untuk melakukan sesuatu atau menetapkan hukum atas sesuatu; akan tetapi, apabila syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka Hadits tersebut ditolak dan tidak dapat dijadikan hujjah.

Kualitas Hadits yang dapat diterima sebagai dalil atau hujjah adalah Shahih dan Hasan, dan keduanya disebut juga sebagai Hadits Maqbul (Hadis yang dapat diterima sebagai dalil atau dasar penetapan suatu hukum).(M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 303; Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-‘llm li al-Malayin, 1973), h. 141).

Syarat Qabul Hadits

Di antara syarat qabul suatu Hadis adalah berhubungan erat dengan sanad Hadis tersebut, yaitu:
(1) Sanad-nya bersambung,
(2) Bersifat adil, dan
(3) Dhabith.
Dan, syarat selanjutnya berhubungan erat dengan matan Hadis, yaitu:
(4) Hadisnya tidak syadz, dan
(5) Tidak terdapat padanya ‘illat.( Mahmud al-Thahhan, Taisir, h. 33; Ibn al-Shalah, ‘Ulum al-Hadits, ed. Nur al-Din “Atr (Madinah. Maktabat al-‘Ilmiyyah, 1972), h. 10. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 305).

Penjelasan

Dari lima kriteria yang disebutkan di atas agar suatu Hadis dapat diterima sebagai dalil atau hujjah, tiga di antaranya adalah berhubungan dengan sanad Hadis tersebut. Suatu Hadis, manakala sanadnya tidak bersambung atau terputus, maka Hadis tersebut tidak dapat diterima sebagai dalil. Keterputusan sanad tersebut dapat terjadi pada awal sanad, baik satu orang perawi atau lebih (disebut Hadis Mu’allaq), atau pada akhir sanad (disebut Hadis Mursal), atau terputusnya sanad satu orang (Munqathi’, atau dua orang atau lebih secara berurutan (Mu’dhal), dan lainnya. Demikian juga halnya apabila sanad Hadis mengalami cacat, baik cacat yang berhubungan dengan keadilan para perawi, seperti pembohong, fasik, pelaku bid’ah, atau tidak diketahui sifatnya, atau cacatnya berhubungan dengan ke-dhabith-annya, seperti sering berbuat kesalahan, buruk hafalannya, lalai, sering ragu, dan menyalahi keterangan orang-orang terpercaya. Keseluruhan cacat tersebut, apabila terdapat pada salah seorang perawi dari suatu sanad Hadis, maka Hadis tersebut juga dinyatakan Dha’if dan ditolak sebagai dalil. Pembicaraan mengenai macam- macam Hadis, baik yang dapat atau tidak dapat dijadikan sebagai dalil, merupakan topik bahasan pada bab selanjutnya.

Dari gambaran di atas terlihat bahwa sanad suatu Hadis sangat berperan dalam menentukan kualitas Hadis, yaitu dari segi dapatnya diterima sebagai dalil (Maqbul) atau tidak (Mardud).

Karena begitu pentingnya peranan dan kedudukan sanad dalam menentukan kualitas suatu Hadis, maka para Ulama telah melakukan upaya-upaya untuk mengetahui secara jelas dan rinci mengenai keadaan masing-masing sanad Hadis. Upaya dan kegiatan ini berwujud dalam bentuk penelitian Hadis, khususnya penelitian sanad Hadis. Kitab-kitab yang disusun dan memuat tentang keadaan para perawi Hadis, seperti data-data mereka, biografi mereka, dan keadaan serta sifat-sifat mereka, di antaranya adalah:

(a) Karya yang membahas tentang riwayat hidup para Sahabat

Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashhab, oleh Ibn Abd al-Barr al-Andalusi;
Usud al-Ghabat fi Ma’rifat al-Shahabat, oleh 1z al- Din Abi al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn al-Atsir al-Jaziri (w. 630 H);
Al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat, oleh Ibn Hajar al- Asqalani (w. 852 H).

(b) Kitab-kitab Thabaqat

Al-Thabaqat al-Kubra, oleh Abu Abd Allah Muhammad ibn Sa’d al-Waqidi (w. 230 H);
Tadzkirat al-Huffazh, oleh Abu Abd Allah Ahmad ibn Utsman al-Dzahabi (w. 748 H).

(c) Kitab-kitab yang memuat riwayat hidup para perawi Hadis secara umum

Al-Tarikh al-Kabir, oleh Imam al-Bukhari (w. 256 H);
Al-Jarh wa al-Ta’dil, oleh Ibn Abi Hatim (w. 327 H).

(d) Karya-karya yang memuat tentang para perawi Hadis dari kitab-kitab tertentu

Al-Hidayat wa al-Irsyad fi Ma’rifat ahl al-Tsiqat wa al-Sadad, oleh Abu Nashr Ahmad ibn Muhammad al-Kalabadzi (w. 398 H) (kitab ini memuat secara khusus para perawi Hadis dari kitab Shahih al- Bukhari).

Sedangkan kitab-kitab yang memuat biografi para perawi Hadis yang terdapat di dalam al-Kutub al-Sittah dan lainnya adalah seperti: Al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, oleh Abd al-Ghani al- Maqdisi (w. 600 H),
Tahzib al-Kamal, oleh Al-Mizzi (w. 742 H); Tahdzib al-Tahdzib, oleh Al-Dzahabi (w. 748 H),
Tahdzib al-Tahdzib, oleh Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), dan lain-lain.

Demikian uraian tentang Peranan Sanad dalam Penentuan Kualitas Hadits semiga bermanfaat. Aamiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/