Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits
Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits

Sejarah Pengkodifikasian Hadits

Sejarah penghimpunan dan pengkodifikasian Hadits, terlihat bahwa begitu besarnya peranan yang dimainkan oleh masing-masing perawi Hadits dalam rangka mencatat dan memelihara keutuhan Hadits Nabi SAW. Kegiatan pendokumentasian Hadits, terutama pengumpulan dan penyimpanan Hadits-Hadits Nabi SAW, baik melalui hafalan maupun melalui tulisan yang dilakukan oleh para Sahabat, Tabi’in, Tabi’i al-Tabi’in, dan mereka yang datang sesudahnya, yang rangkaian mereka itu disebut dengan sanad, sampai kepada generasi yang membukukan Hadits-Hadits tersebut, seperti Malik ibn Anas, Ahmad ibn Hanbal, Bukhari, Muslim, dan lainnya, telah menyebabkan terpeliharanya Hadits-Hadits Nabi SAW sampai ke tangan kita seperti sekarang ini.

Penjelasan Sejarah

Berdasarkan sejarah periwayatan Hadits, para perawi, mulai dari tingkatan Sahabat sampai kepada Ulama Hadits masa pembukuan Hadits, telah melakukan pendokumentasian Hadits melalui hafalan dan tulisan. Bahkan, menurut Al-Azami, pada tingkatan Sahabat pengumpulan dan pemeliharaan Hadits dilakukan dengan tiga cara,( M.M. Azami, Studies in Hadith Metodology and Literature (Indianapolis: American Trust Publications, 1413 H/1992 M), h. 13-14) yaitu: (i) Learning by memorizing, yaitu dengan cara mendengarkan setiap perkataan dari Nabi SAW secara hati- hati dan menghafalkannya; (ii) Learning through writing, yaitu mempelajari Hadits dan menyimpannya dalam bentuk tulisan. Dalam cara ini, yaitu menyimpan dan menyampaikan Hadits dalam bentuk tulisan, terdapat sejumlah Sahabat, yaitu seperti Abu Ayyub al-Anshari (w. 52 H), Abu Bakar al-Shiddiq (w. 13 H), Abd Allah ibn ‘Abbas (w. 68 H), ‘Abd Allah ibn ‘Umar (w. 74 H), dan lain-lain.( Lebih lanjut lihat M M. Azami, Studies in Early Hadith Literature (Indianapolis. American Trust Publications. 1978). h. 34-80) (iii) Learning by practice, yaitu para Sahabat mempraktikkan setiap apa yang mereka pelajari mengenai Hadits, yang diterimanya baik melalui hafalan maupun melalui tulisan.

Kesimpulan

Demikianlah cara-cara para Sahabat dalam menerima dan memelihara Hadits-Hadits Nabi SAW. Cara yang demikian tetap dipertahankan oleh para Sahabat dan Ulama yang datang setelah mereka, setelah wafatnya Nabi SAW. Khusus mengenai kegiatan penulisan Hadits yang dilakukan oleh masing-masing generasi periwayat Hadits, mulai dari generasi Sahabat, generasi Tabi’in, Tabi’i al-Tabi’in, sampai para Ulama sesudah mereka, telah didokumentasikan oleh M.M. Azami di dalam disertasi doktornya yang berjudul Studies in Early Hadith Literature.

Metode Terakhir

Dalam perkembangan berikutnya, proses pendokumentasian Hadits semakin banyak dilakukan dengan tulisan. Hal ini terlihat dari delapan metode mempelajari Hadits yang dikenal di kalangan Ulama Hadits, tujuh di antaranya, yaitu metode kedua sampai kedelapan, adalah sangat tergantung kepada materi tertulis, bahkan sisanya yang satu lagi pun, yaitu yang pertama, juga sering berkaitan dengan materi tertulis. Kedelapan metode tersebut adalah:
Sama’, yaitu bacaan guru untuk murid-muridnya. Metode ini berwujud dalam empat bentuk, yakni: bacaan secara lisan, bacaan dari buku, tanya jawab, dan mendiktekan.

‘Ardh, yaitu bacaan oleh para murid kepada guru. Dalam hal ini para murid atau seseorang tertentu yang disebut Qari’, membacakan catatan Hadits di hadapan gurunya, dan selanjutnya yang lain mendengarkan serta membandingkan dengan catatan mereka atau menyalin dari catatan tersebut.
Ijazah, yaitu memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan sebuah Hadits atau buku yang bersumber darinya, tanpa terlebih dahulu Hadits atau buku tersebut dibaca di hadapannya.
Munawalah, yaitu memberikan kepada seseorang sejumlah Hadits tertulis untuk diriwayatkan/disebarluaskan, seperti yang dilakukan oleh Al-Zuhri (w. 124 H) kepada Al-Tsauri, Al-Auza’i, dan lainnya.
Kitabah, yaitu menuliskan Hadits untuk seseorang yang selanjutnya untuk diriwayatkan kepada orang lain.
I’lam, yaitu memberi tahu seseorang tentang kebolehan untuk meriwayatkan Hadits dari buku tertentu berdasarkan atas otoritas Ulama tertentu.

Washiyyat, yaitu seseorang mewasiatkan sebuah buku atau catatan tentang Hadits kepada orang lain yang dipercayainya dan dibolehkannya untuk meriwayat-kannya kepada orang lain. Wajadah, yaitu mendapatkan buku atau catatan seseorang tentang Hadits tanpa mendapatkan izin dari yang bersangkutan untuk meriwayatkan Hadits tersebut kepada orang lain. Dan, cara yang seperti ini tidak dipandang oleh para Ulama Hadits sebagai cara untuk menerima atau mempelajari Hadits.

Melalui cara-cara di atas, masing-masing sanad Hadits secara berkesinambungan, mulai dari lapisan Sahabat, Tabi’in, Tabi’i al-Tabi’in, dan seterusnya sampai terhimpunnya Hadits-Hadits Nabi SAW di dalam kitab-kitab Hadits seperti yang kita jumpai sekarang, telah memelihara dan menjaga keberadaan dan kemurnian Hadits Nabi SAW, yang merupakan sumber kedua dari ajaran Islam. Kegiatan pendokumentasian Hadits yang dilakukan oleh masing-masing sanad tersebut di atas, baik melalui hafalan maupun melalui tulisan, telah pula didokumentasikan oleh para Ulama dan para peneliti serta kritikus Hadits. Kitab-kitab Hadits yang muktabar dan standar, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya, di dalam menuliskan Hadits juga menuliskan secara urut nama-nama sanad Hadits tersebut satu per satu, mulai dari sanad pertama sampai sanad terakhir.

Kegiatan pendokumentasian Hadits yang telah dilakukan oleh para sanad Hadits sebagaimana telah dijelaskan di muka, merupakan suatu kontribusi besar bagi keterpeliharaan dan kesinambungan ajaran agama Islam yang telah disumbangkan oleh para sanad Hadits.

Demikian uraian tentang Peranan Sanad dalam Pendokumentasian Hadits semoga bermanfaat. Aamiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/