Dianggap Belum Sesuai, Penerapan HOTS di UNBK Diprotes

Dianggap Belum Sesuai, Penerapan HOTS di UNBK Diprotes

Dianggap Belum Sesuai, Penerapan HOTS di UNBK Diprotes

Dianggap Belum Sesuai, Penerapan HOTS di UNBK Diprotes
Dianggap Belum Sesuai, Penerapan HOTS di UNBK Diprotes

Mulai tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberlakukan soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi atau yang disebut dengan istilah higher order thinking skills (HOTS) pada ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Tujuannya, meningkatkan kualitas ujian itu.

Sebagai langkah awal, baru 10 persen dari jumlah soal yang didesain memerlukan daya nalar tinggi. Berikutnya, berdasar evaluasi, porsi soal HOTS itu dinaikkan secara bertahap.

Berikut salah satu contoh soal HOTS untuk mata pelajaran matematika di unas SMA dua pekan lalu.
UNBK SMP, UNBK SMP 2018, UNBK 2018
Siswa SMA ketika mengikuti UNBK di NTB beberapa waktu lalu (Rojai/Lombok Pos/Jawa Pos)

OSIS suatu sekolah mengadakan pentas seni… panitia memilih gedung yang tempat duduk penontonnya berbentuk lingkaran enam baris. Banyaknya kursi pada masing-masing baris membentuk pola barisan tertentu. Jika pada baris pertama terdapat 25 kursi, baris kedua 35 kursi, baris ketiga 50 kursi, baris keempat 70 kursi, dan seterusnya, tentukanlah banyaknya seluruh tempat duduk pada gedung pertunjukan itu.

Apa tanggapan para siswa? Saat diterapkan di UNBK SMA pada 9 hingga 12 April lalu,

langsung terjadi kehebohan. Melalui media sosial, para peserta UNBK SMA mengungkapkan keluh kesah mereka. Sebagian besar menilai soal UNBK, terutama untuk mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia bagi peserta UNBK jurusan IPA, tidak sesuai dengan apa yang diajarkan. Sedangkan untuk peserta ujian jurusan IPS, soal yang dinilai tak sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan adalah matematika dan ekonomi.

“Parah, soal UN matematikanya susah banget. Percuma belajar siang malam pagi sore, nggak ada yang keluar,” ungkap akun Twitter @_putrilee. Akun lainnya, @anon2585, malah meminta Mendikbud mengerjakan soal matematika agar tahu susahnya soal UNBK matematika pada tahun ini. “Coba Pak, sekali kali kerjain UN matematika yang sekarang, biar bapak tau betapa susahnya kita mengerjakan soal soal yang bapak kasih,” keluhnya.

Pakar pendidikan sekaligus praktisi pembelajaran abad ke-21 Indra Charismiadji mengatakan, HOTS

merupakan konsep reformasi pendidikan yang dimulai pada abad ke-21. Tujuannya, proses pendidikan dapat mencetak sumber daya manusia yang mampu menghadapi revolusi industri 4.0.

Pada era revolusi industri 4.0, sumber daya manusia tidak sebatas menjadi pekerja yang mengikuti perintah. “Tetapi juga memiliki keterampilan abad XXI,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (22/4). Keterampilan abad ke-21 itu adalah manusia yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, berkolaborasi, berpikir kritis, dan mampu menyelesaikan masalah, lalu kreatif serta mampu berinovasi.

Indra menerangkan, HOTS dilandasi taksonomi pembelajaran yang dicetuskan psikolog

pendidikan asal Amerika Serikat Benjamin S. Bloom pada 1956. Taksonomi itu kemudian direvisi murid Bloom sendiri, yakni Lorin Anderson, pada 2001. Lorin mengelompokkan keterampilan berpikir atau kognitif manusia dari tingkat paling rendah ke paling tinggi.

“Terdapat enam tingkat kemampuan berpikir tersebut,” kata Indra. Dimulai dari level paling rendah, yakni menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan tingkat yang paling tinggi adalah mencipta.

Pakar pendidikan sekaligus Ketua Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Pengurus Besar PGRI Mohammad Abduhzen mengkritik penerapan HOTS. Menurut dia, sebelum pemerintah menerapkan HOTS ke UN, sebaiknya konsep dan praktik pembelajaran dibenahi dulu. HOTS, tegas dia, bukan mata pelajaran dan juga bukan soal ujian. “HOTS adalah tujuan akhir yang dicapai melalui pendekatan, proses, dan metode pembelajaran,” ucapnya.

 

Sumber :

https://egriechen.info/kalimat-majemuk-bertingkat/