bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah
bacalah doa doa sholat tarawih dan witir ini karna selalu diucapkan rasulullah

 

Shalat Tarawih

Sholat Tarawih sapa yang gak tau sholat tarawih ya sholat tarawih adalah sholat yang kita lakukan pada saat bulan suci ramadhadan sholat ini memiliki hukum sunnah muakkad yaitu sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rosulullah SAW.

Nah pada kesempatan ini saya akan menceritakan sejarah sholat tarawih dan akan memberikan doa-doa shoalat tarawih

Shalat tarawih adalah shalat Sunnah yang dilaksanakan oleh kaum muslimin pada malam-malam
bulan Ramadhan setelah shalat isya’ dan sebelum shalat witir. Shalat tarawih disunahkan bagi kaum
muslimin, pria dan wanita. Rasulullah Saw, sendiri juga menunaikannya yang ketika itu belum dikenal
dengan nama “Shalat tarawih” dan menganjurkan umatnya supaya menunaikan juga. Demikian pula yang
dilakukan oleh para sahabat Nabi dan umat islam generasi-generasi berikutnya.

Kumpulan Hadits

Dalam hal ini sahabat Abu Hurairah ra. berkata :

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَیْھِ وَسَلَّمَ یُرَغِّبُ فِى قِیَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَیْرِ أَنْ یَأْمُرَھُمْ فِیْھِ بِعَزِیْمَةٍ
فَیَقُوْلُ : مَنْ قَامَ رَمَضاَنَ إِیْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَھُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِھِ

“Rasulullah Saw, menggemarkan ibadah di bulan ramadhan, akan tetapi beliau tidak menganjurkannya
dengan keras. Beliau berkata : “Barangsiapa banyak beribadah di bulan ramadhan dengan iman dan
ikhlas, maka di ampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu”. (HR. : Muslim)
Maksud hadits ini adalah “Siapa yang menghidupkan malam-malam ramadhan dengan shalat zikir
dan membaca Al-Qur’an berdasarkan iman dan ikhlas, maka di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu yakni
dosa-dosa kecil”.

Ibnu Qudomah

Ibnu Qudomah dalam kitabnya Al-Mugni mengatakan bahwa : “Shalat tarawih itu hukumnya sunah
mu’akkadah dan orang pertama yang melaksanakannya adalah Rasulullah Saw,”. Berkaitan dengan ini
terdapat sebuah hadits dimana Siti Aisyah ra. berkata :

صَلَّى النَّبِيُّ فِى الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَیْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلاَتِھِ ناَسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ إجْتَمَعُوْا
مِنَ اللَّیْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ یَخْرُجْ إِلَیْھِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَیْھِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ : قَدْ
رَأَیْتُ الَّذِيْ صَنَعْتُمْ فَلَمْ یَمْنَعْنِيْ مِنَ الْخُرُوْجِ إِلاَّ أَنِّيْ خَشِیْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَیْكُمْ

“Pada suatu malam Nabi shalat di masjid, maka para sahabat pun mengikuti beliau shalat. Kemudian
beliau shalat di malam berikutnya, maka para sahabat (yang akan ikut shalat) menjadi semakin banyak.
Selanjutnya pada malam ketiga atau keempat para sahabat berkumpul (di masjid untuk shalat bersama
beliau) namun ternyata Rasulullah Saw, tidak keluar menemui mereka. Keesokan harinya beliau pun
bersabda : “Saya telah mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku
keluar menemui kalian selain dari kekhawatiranku kalau-kalau shalat itu diwajibkan atasmu”. (HR.
Muslim)

Penjelasan Shalat Tarawih

Shalat tarawih itu seringkali dihubung-hubungkan dengan Umar bin Khattab ra. hal ini dikarenakan
adanya gagasan dari beliau untuk megumpulkan orang-orang agar melaksanakan Shalat tarawih dengan satu
imam dan imam yang ditunjuk oleh beliau pada ketika itu adalah sahabat Ubay bin Ka’ab. Dalam hal ini
Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abdur Rahman bin Abdul Qori dimana beliau berkata :
“Pada suatu malam di bulan ramadhan aku keluar bersama Umar bin Khattab, maka kami melihat orangorang
terbagi dalam beberapa kelompok. Yakni mereka melakukan shalat dalam kelompok-kelompok yang
terpisah. Ada yang shalat sendirian dan ada juga yang shalat bersama sejumlah orang. Menyaksikan
pandangan itu sahabat Umar bin Khattab berkata : “Saya berpendapat bahwa sekiranya orang-orang ini saya
kumpulkan dibelakang seorang qori’ (imam yang bagus bacaannya), mak itulah yang lebih utama”.
Kemudian beliau mematangkan rencananya itu dan selanjutnya mengumpulkan orang-orang (untuk shalat
berjamaah) dibelakang Ubay bin Ka’ab”. Perawi hadits ini berkata : Kemudian pada malam berikutnya saya
keluar lagi bersama Umar bin Khattab dan orang-orang pada waktu itu terlihat shalat berjama’ah dibelakang
seorang qori’. Maka berkatalah Umar : “Inilah sebaik-baik bid’ah!” (HR. Bukhari)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/