Mengenal Ilmu Tasawuf

Mengenal Ilmu Tasawuf

Mengenal Ilmu Tasawuf

Mengenal Ilmu Tasawuf
Mengenal Ilmu Tasawuf
  1. Pengertian Tasawuf

Tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan “ahlu suffah” yang berarti sekelompok orang pada masa rasullah yang hidupnya di isi dengan banyak berdiam di serambi-serambi masjid, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada allah. Menurut istilah banyak sekali diformulasikan pada ahli yang satu dan yang lainnya berbeda, dan dari pengertian menurut para ahli tasawuf dapat disimpulan bahwa tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan marifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji allah dan mengikuti syariat rasulullah dalam mendekatkan diri dan mencampai keridhoan-Nya.

  1. Kritik Terhadap Sumber Tasawuf

Para penentang tasawuf menganggap bahwa tasawuf bukan ajaran yang berasal dari Rosululloh dan bukan pula ilmu warisan dari para sahabat. Mereka menganggap bahwa ajaran tasawuf merupakan ajaran sesat dan menyesatkan yang diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.Disamping itu, ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf merupakan konspirasi yang tersusun rapi untuk menghancurkan Islam. Diantara tujuan terpenting konspirasi tersebut adalah:

  1. Menjauhkan kaum muslim dari Islam yang hakiki dan ajarannya suci murni dengan kedok Islam.
  2. Memasarkan akidah-akidah Yahudi, Kristen, sekte-sekte di India, dan sekte-sekte di Persia seperti agama Budha, agama Hindu, Zoroaster, Al-Manawiyah, Platonisme.

Ibrahim bin Hilal mencoba memetakan pengaruh unsur lain, terutama filsafat Yunani, terhadap tasawuf aliran falsafi. Ia menegaskan bahwa sumber dan kata tasawuf, baik dari mazhab terdahulu maupun belakangan, berasal dari luar dan bukan dari Islam.

  1. Kritik Terhadap Tasawuf Falsafi

Tasawuf falsafi diwakili para sufi yang memadukan tasawuf dengan filsafat. Para sufiyang juga filosof ini mendapat banyak kecaman dari para fuqaha, yang justru semakin keras akibat pernyataan-pernyataan mereka yang panteistis. Di antara fuqaha yang paling keras kecamannya terhadap golongan sufi yang juga filosof ialah Ibn Taimiyah (meninggal pada tahun 728 H).

Dari mulut sebagian sufi lahir beberapa syatahat, yaitu ungkapan isyarat – isyarat yang mereka sampaikan saat berada dalam keadaan mabuk ketuhanan dan lenyapnya kesadaran, yang makna – maknanya tidak jelas bagi orang yang belum mencapai kondisi rohani (ahwal) seperti mereka. Ungakapan –ungkapan itu barang kali keluar dari batas – batas etika syara’, tidak pantas di hadapan Tuhan Yang Mahasuci, atau dari ungkapan – ungkapan itu merembes paham ateisme. Sikap kita terhadap syathahat – syathahat mereka itu tidak berbeda dengan sikap ulama salaf yang saleh.

Dalam kaitan ini, Ibnu Qayyim berkata, “Ketauhilah bahwa dalam bahasa kaum sufi itu ada banyak metafora yang tidak dimiliki oleh bahasa kaum yang lainnya. Ada pengungkapan hal umum, satu kata, tetapi yang dimaksud adalah hal yang khusus. Atau pengungkapan satu kata, namun yang dimaksud adalah indikasinya, bukan makna sebenarnya. Karena itu, mereka berkata, ‘Kami adalah para pemilik isyarat, bukan pemilik ungkapan. Isyarat adalah bagi kami, sedang ungkapan bagi orang selain kami’. Mereka (para sufi) terkadang mengungkapkan satu frase yang di ungkapkan oleh orang ateisme.

Dengan frase itu para sufi menghendaki suatu makna bukan kerusakan. Oleh karena itu, frase itu menjadi sebab timbulnya fitnah diantara dua kelompok. Satu kelompok bersandar kepada whir frase, lalu menilai orang yang mengungkapkan frase itu ahli bid’ah dan menyesatkan. Sementara kelompok yang satu lagi memandang maksud – maksud dan tujuan dari orang –orang sufi, lalu membenarkan ungkapan dan isyarat – isyarat mereka itu. Maka orang yang mencari kebenaran (al-haqq) akan menerimanya dari orang ahli kebenaran, dan menolak dari yang bukan ahli kebenaran.

Ibn Nadim, berlandaskan sumber – sumber tertentu yang bertentangan, pada abad ke-10 berkata tentang Al-Hallaj:“Al-Husayn ibn Mansur Al-Hallaj adalah seorang penipu dan tukang sulap yang memberanikan diri masuk ke dalam pemikiran mazhab sufi, memengaruhi gaya bahasa mereka. Ia menyatakan menguasai setiap bidang ilmu, tetapi pernyataan itu tidak berharga. Ia tahu sedikit tentang al-hikmah. Ia bodoh, berani, patuh, tetapi tidak gentar di hadapan para sultan, berusaha melakukan hal – hal besar dan sungguh menginginkan suatu perubahan dalam pemerintah. Diantara para pengikutnya ia mengaku bersifat ilahi, dan berbicara tentang penyatuan ilahi”

Di antara hal paling penting yang dituduhkan oleh orang – orang yang menentang kaum sufi adalah tuduhan yang bodoh dan palsu bahwa kaum sufi meyakini hulul dan ittihad. Artinya, Allah menduduki seluruh bagian bumi, baik di lautan, pegunungan, bukit – bukit, pepohonan, manusia, hewan, dan sebagainya. Dengan kata lain, makhluk adalah khaliq itu sendiri. Semua yang di dapatdiraba dan dapat dilihat di alam ini merupakan dzat allah dan diri-Nya. Mahasuci Allah dari semua itu.

Hulul dan Itthad tidak mungkin terjadi, kecuali dalam satu jenis. Allah bukanlah jenis sehingga Dia tidak bisa menyatu dengan jenis – jenis lainnya. Bagaimana bisa Yang Qadim menempati yang hadis, Kahliq menempati makhluk? Jika yang dimaksud dengan hulul adalah masuknya ‘aradh (lawan dari esensi) ke dalam esensi, Allah bukanlah ‘arad. Jika yang dimaksud adalah masuknya esensi ke dalam esensi, Allah bukanlah esensi. Jika hulul dan Ittihad antara dua makhluk adalah sesuatu yang mustahil, tidak mungkin dua orang laki – laki karena perbedan zat keduannya, perbedaan antara Khaliq dan makhluk., antara pembuat dan yang dibuat, dan antara dzat yang wajib adadan sesuatu yang mungkin, lebih besar dan lebih utama lagi.

Para ulama dan para sufi yang tulus terus berusaha menjelaskan kesalahan pendapat tentang hulul dan Ittihad, menunjukkan kerusakannya, dan memperingatkan kesesatannya.

Dalam Al-Aqidah Ash-Shughra, Syekh Muhyiddin inb Arabi berkata, “Mahatinggi Allah dari menempati yang hadis, atau yang hadis menempati-Nya”. Dalam bab Al-Asrar, ia berkata, “Seorang ahli makrifat tidak boleh berkata, “Aku adalah Allah”, sekalipun dia sampai pada tingkat kedekatan yang paling tinggi. Seorang ahli makrifat harus menjauhi perkataan seperti ini. Hendaknya dia berkata, ‘Aku adalah hamba yang hina dalam perjalanan menuju Engkau’. Dalam bab ke-169, ia berkata, “Yang Qadim sekali – kai tidak akan menjadi tempat yang hadis, dan sekali – kali tidak akan menempati yang hadis”. Dalam bab Al-Asrar, ia berkata, Barang siapa berkata tentang hulul, berarti dia itu sakit. Mengaku ittihad, adalah penyakit yang tidak akan hilang. Dan tidak akan berkata tentang ittihad, kecuali orang murtad, sebagaimana orang yang berkata tentang hulul adalah orang yang bodoh dan berlebih – lebihan.” Dalam bab yang sama, ia berkata, “Yang hadis tidak akan terlepas dari sifat – sifat makhluk. Jika Yang Qadim tidak menempatinya, benarlah perkataan ahli tajsim. Jadi, Yang Qadim tidak menempati dan tidak menjadi tempat”.

Sumber: https://sel.co.id/